{"id":84,"date":"2026-04-15T02:24:24","date_gmt":"2026-04-15T02:24:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/?p=84"},"modified":"2026-06-21T16:01:34","modified_gmt":"2026-06-21T09:01:34","slug":"mengintip-amanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/cerita-pendek\/mengintip-amanda\/","title":{"rendered":"Mengintip Amanda"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">Adam, sahabatku, pergi tanpa pamit. Pada hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas lima, ia tidak ada di kelas. Aku mengira ia masih pergi liburan, tetapi ketika pergi ke rumahnya, aku menemukan spanduk kuning di pagar bertuliskan \u201cRumah Dikontrakkan\u201d. Ibuku bilang mereka sudah pindah ke Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah bertahun-tahun dikontrakkan dan beberapa kali ganti penyewa, rumah itu akhirnya dijual. Pembelinya Pak Maman, ayah Amanda. Itu lima tahun lalu. Pak Maman tidak langsung menempati. Rumahnya dikontrakkan selama tiga tahun, kosong selama beberapa bulan, dan baru ditempatinya bersama dua anak laki-lakinya setelah pensiun dari Departemen Kesehatan. Tidak sampai setahun, putra pertamanya pindah ke Bandung karena pekerjaan. Setelah itu Pak Maman tinggal berdua bersama putra keduanya, hingga Amanda\u2014anak bungsunya\u2014tinggal bersama mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Maman biasa nongkrong di samping pintu gerbang masjid bersama tukang parkir dan tiga jemaah lain sambil merokok. Kalau tidak merokok, ia nongkrong di beranda masjid bersama jemaah lain yang tidak merokok, biasanya setelah salat asar atau magrib, mengobrol tentang politik atau orang lain. Usianya enam puluh enam, tubuhnya gemuk, wajahnya lebar. Keluwesannya bergaul membuatnya seperti sudah puluhan tahun tinggal di lingkungan kami. Ia lebih tahu soal apa yang terjadi di lingkungan kami ketimbang kebanyakan orang lama. Misalnya, siapa sangka, yang mengerjakan proyek pemasangan pagar masjid enam bulan lalu, yang anggarannya tidak masuk akal itu, adalah Bendahara Masjid.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLihat saja siapa yang dapat proyek pasang marmer lantai masjid nanti,\u201d katanya, suara seraknya berlogat Sunda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tidak begitu kenal anak pertama Pak Maman, tetapi aku berteman baik dengan anak keduanya. Namanya Rulie. Pertama kali mengenal Rulie pada suatu sore di beranda samping masjid. Ia mendatangi kami yang sedang mengobrol dan menyalami satu per satu sambil memperkenalkan diri sebagai warga baru. Badannya yang gemuk membuat kami menggeser cukup lebar untuk memberinya tempat. Kami saling memperkenalkan diri. Dari situ kami tahu sedikit banyak tentang dirinya, bahwa ia tinggal di blok yang sama denganku, sebelumnya ia tinggal di Tangerang, dan ibunya meninggal karena kanker waktu ia kelas dua SMP. Sekarang ia bekerja sebagai humas di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi Timur sambil menyelesaikan skripsinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi mengenal Amanda tidak semudah mengenal ayah atau kakaknya. Seperti menapaki anak tangga, aku mengenalnya setahap demi setahap, dan \u2026 lumayan lama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di anak tangga pertama, aku melihatnya sebagai orang asing yang berjalan melewati rumahku. Dia bisa siapa saja\u2014anak kos yang bekerja di pabrik di Cikarang, SPG di mal, perawat di rumah sakit, atau sekadar lewat. Aku baru terpikir dia warga di sini setelah lima menit kemudian dia kembali melewati rumahku, membawa sebungkus belanjaan dari mini market.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penasaran dengan dirinya, aku menunggunya pada jam yang sama keesokan harinya. Aku berdiri di pintu pagar sambil sesekali melirik ke arah pertigaan gang. Namun setelah setengah jam, dia tidak muncul. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menunggunya lagi lusanya. Dia tetap tidak muncul. Kupikir, mungkin dia sebenarnya lewat, hanya saja saat itu aku sedang berada di dalam rumah. Jadi, kuputuskan untuk menunggunya lagi selama dua hari berikutnya. Namun ketika dia tidak juga muncul, aku tidak ingin tahu lagi tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lama setelah itu, ketika aku sudah melupakannya, aku melihatnya keluar dari pertigaan gang. Pada saat itu aku sedang menyapu sampah keluar pintu pagar. Awalnya kupikir dia orang lain, tetapi aku masih mengenali wajahnya yang bulat. Dia lewat tepat di depanku, melangkah seperti dalam gerakan&nbsp;<em>slow motion<\/em>, rambutnya mengembang ditiup angin, rok hitamnya yang panjang melambai-lambai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan \u201cSiapa dia?\u201d, &#8220;Dia tinggal di mana?&#8221;, atau &#8220;Siapa namanya?&#8221; muncul di kepalaku. Namun aku bukan tipe laki-laki yang agresif. Karena itu aku menunggunya setiap pagi di jam dia biasa lewat\u2014antara pukul tujuh sampai pukul sepuluh. Jika aku tidak melihatnya lewat dari jam itu, anggap saja dia tidak muncul. Atau, aku belum beruntung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tidak menganggap menunggunya sebagai sebuah rutinitas baru, melainkan sebuah kegiatan sambilan. Aku punya segudang kegiatan di pagi hari: aku mencukur kumis dan jenggot setiap dua atau tiga hari di teras, menyiram tanaman, membuang sampah, menyapu halaman rumah, dan kadang-kadang menjemur pakaian. Jadi, bisa melihat dirinya kuanggap sebagai sebuah kebetulan\u2014jika tidak dianggap sebagai sebuah keberuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebetulan juga yang membawaku naik ke anak tangga berikutnya: mendapatkan namanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada suatu pagi ketika aku sedang mencukur kumis, aku mendengar ibuku, yang sedang duduk di bangku tembok pagar menunggu tukang sayur, menyapanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKe mana, Manda?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manda untuk Amanda, tentu saja. Itu nama yang indah. Aku berhenti bercukur dan mengintip Amanda melalui celah tirai bambu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKe warung,\u201d jawabnya, tersenyum. Senyum yang menawan. \u201cMari, Bu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mataku mengikutinya sampai dia berbelok ke luar gang. Aku berpikir, bagaimana ibuku bisa mengenalnya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jelas itu pertanyaan bodoh. Pergaulan ibuku sangat luas. Dia pengurus majlis taklim, aktif di PKK, mengajar mengaji anak-anak di masjid, dan sebagainya. Sementara aku lebih sering berada di rumah. Aku bisa saja langsung bertanya kepada ibuku tentang Amanda, misalnya: \u201cBagaimana Ibu bisa kenal Amanda?\u201d atau \u201cDi mana rumah Amanda?\u201d tetapi aku tidak akan melakukannya. Seandainya aku (keceplosan) menanyakan itu, meski tidak bisa dipastikan, ibuku akan berkata, \u201cKamu kerja saja dulu. Nggak usah mikirin perempuan.\u201d Lalu, ayahku yang sedang baca koran menggeleng-geleng kepala. Adik perempuanku yang berumur sepuluh tahun akan menertawakanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua orang tuaku memang sangat mencemaskan masa depanku. Di usiaku yang mendekati dua puluh tujuh, mereka berpikir aku sudah terlalu lama menganggur\u2014meski tidak selama itu menurut hitunganku. Satu tahun satu bulan bukan jelas waktu yang lama untuk orang yang punya alasan kuat untuk tidak bekerja. Akan kujelaskan nanti alasannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski begitu, aku yakin kecemasan orang tuaku sebagai bentuk perhatian, bukan ketakutan yang berlebihan, dan mereka punya cara masing-masing untuk menunjukkannya. Misalnya Rabu lalu ketika Ayah menemukanku sedang termenung di kursi teras. Sambil menepuk-nepuk pundakku, ia berkata, \u201cKamu yang sabar, nanti juga dapat kerja lagi.\u201d Aku menghargai caranya meskipun pada saat itu sebetulnya aku sedang memikirkan Amanda. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibuku lain lagi. Dia memintaku berhenti memberinya uang bulanan lagi\u2014untuk sementara sampai aku bekerja lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku seharusnya senang mendengar kata-kata bijak Ibu. Bisa dibilang selama ini aku juga yang membiayai hampir semua kebutuhan rumah. Aku yang membeli beras, minyak goreng, membayar tagihan listrik, air, internet, bayar uang SPP adikku, dan yang lain. Bukannya bermaksud sombong, tetapi yang kubilang \u201cselama ini\u201d itu lumayan lama\u2014sejak aku pertama kali bekerja lima tahun lalu\u2014dan kupikir memang sudah sepatutnya aku, yang seorang pengangguran, tidak perlu menyetor uang bulanan. Keputusan Ibu tentunya bukan tanpa perhitungan. Upahnya dari mengajar mengaji dan uang pensiun Ayah yang nyaris tidak tersentuh bisa dipakai untuk membiayai kebutuhan rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku bisa saja menerima tawaran Ibu, tapi setelah kupikir matang-matang, aku mengambil setengahnya saja. Maksudku, aku masih ikut membiayai sebagian kebutuhan rumah. Begini, aku merasa kalau tidak memberikan kontribusi finansial, maka aku akan menjadi beban di rumah. Aku kenal beberapa tetanggaku yang sudah terlalu lama menganggur, bahkan ada yang sudah berkeluarga dan punya anak. Mereka sering jadi bahan gunjingan orang-orang, malahan kadang jadi bahan omongan di rumah. Ibu pernah bercerita tentang tetangga kami yang diceraikan istrinya gara-gara terlalu lama menganggur, dan aku merasa kasihan kepadanya\u2014sekarang omongan semacam itu malah seperti sedang menyindirku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau Anda tinggal di lingkungan yang akrab seperti di tempatku, mengetahui rumah pendatang baru hanya soal waktu. Begitulah caraku tahu rumah Amanda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Sabtu siang yang mendung itu Rulie memintaku datang ke rumahnya untuk memperbaiki laptopnya. Penting, katanya. Data-data harus diselamatkan. Aku datang ke rumahnya dengan harapan tidak ada kerusakan besar sehingga aku bisa pulang sebelum hujan turun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jam dinding menunjukkan pukul 12.55, jam biasa aku sudah tidur siang. Di atas meja tamu ada laptop, kertas-kertas kerja dan dua buah pulpen di sampingnya. Kami duduk di atas lantai. Rulie membuka laptop dan menyalakannya. Laptop tidak masuk windows, hanya menampilkan layar biru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku berpikir sejenak. Aku ingat laptop pertamaku pernah mengalami masalah yang hampir mirip, tapi aku tidak panik seperti Rulie. Waktu itu aku mencari tutorialnya di YouTube lalu mengikuti langkah-langkahnya. Tidak sulit. Aku mencoba cara yang sama di laptop Rulie, dan tidak sampai lima menit laptopnya sudah kembali normal. Rulie memberiku seratus ribu, tapi hujan sudah terlanjur turun deras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLagi nggak ada kerjaan di rumah, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNggak ada. Santai aja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gelegar guntur bersahutan. Angin bertiup kencang, menggoyang gorden, menerbangkan koran dan kertas-kertas di atas meja. Aku membantu Rulie, membereskan koran dan kertas-kertas yang berserakan di lantai, menaruhnya di bawah meja. Rulie menutup pintu dan jendela, menyalakan lampu, lalu kembali ke laptopnya. Aku menyandarkan kepala di sofa sambil memeluk bantal. Mencoba tidur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdengar bunyi di pintu pagar. Aku membuka mata. Rulie menengok ke arah jendela sebentar lalu kembali sibuk dengan laptopnya. Di luar, kulihat seseorang tanpa payung sedang kesulitan menarik slot pintu pagar. Perlu beberapa saat hingga dia berhasil membukanya. Dia membuka pintu rumah dan mengeringkan kakinya di kain lap. Pakaiannya basah kuyup. Dia memandangku, membuatku bertanya-tanya, apakah dia tahu bahwa selama ini aku sering memperhatikannya. Dia melangkah masuk, meninggalkan jejak air di lantai, lalu berhenti di belakang Rulie.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBapak sudah makan?\u201d tanyanya kepada Rulie.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSudah. Tadi dimasakin telur,\u201d jawab Rulie sambil mengetik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Air berjatuhan dari rambutnya. Betisnya putih pucat. Dia menyisir rambutnya dengan tangan kanan, menampakkan ketiaknya yang mulus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rulie berhenti mengetik. \u201cKenalin, ini teman kakak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku bangkit dan berdiri, lalu kami bersalaman. Tangannya basah, dingin dan lembut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAmanda.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak lama setelah dia pergi, Rulie mengatakan bahwa adiknya sudah hampir dua tahun lulus SMA. Ia dan ayahnya memintanya untuk lanjut kuliah, tapi Amanda bersikeras ingin bekerja. Amanda pernah bekerja jadi SPG dan kasir di mini market. Dia bisa Excel, Word, Power Point, MYOB. Kalau ada&nbsp;info lowongan kerja tolong kasih tahu, kata Rulie. Aku sempat terpikir memintanya untuk mengirimkan CV Amanda, dengan begitu aku bisa tahu nomor ponselnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTentu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkenalan singkat itu membuatku lebih berani untuk menampakkan diri di hadapannya. Aku berpura-pura sedang membuang sampah atau menyiram tanaman, atau alasan lain yang masuk akal, dan menyapanya saat kami berpapasan. Aku biasa berkata, \u201cHai, Manda!\u201d atau \u201cMau ke mana, Manda?\u201d Atau kadang-kadang cukup dengan senyuman. Aku menikmati tiap kali berpapasan dengannya, seakan-akan baru pertama kali melihatnya. Dia ramah, wajahnya memancarkan aura keceriaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak masalah jika aku belum bisa mengajaknya makan di luar atau menonton bioskop. Hariku sudah cukup lengkap hanya dengan melihat wajahnya. Namun, sikap pasifku membawa konsekuensi yang harus kuterima dengan lapang dada. Misalnya, ketika aku melihatnya berjalan bersama teman-teman laki-lakinya, atau bahkan saat mendengar bahwa ia telah berpacaran dengan Bowo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku dan Bowo sudah saling kenal lama meskipun tidak begitu akrab. Kami punya lingkaran masing-masing; ia bergaul bersama teman-temannya di Karang Taruna, aku bergaul bersama teman-temanku di masjid. Bagiku, lingkaran pergaulan tidak lebih dari soal kecenderungan, seperti memilih jurusan di kampus. Karena itu, meskipun jarang menghabiskan waktu bersama, kami tetap berteman baik dan sering bekerja sama dalam kegiatan di lingkungan kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, sejak bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas Tata Kota, Bowo terlihat berbeda. Ia menjadi lebih angkuh. Tadinya kupikir hanya aku yang merasa begitu, ternyata banyak juga yang berpikiran sama, termasuk Pak Maman. Sore itu, setelah salat asar, saat kami mengobrol di tangga masjid, Pak Maman sempat membanggakan Bowo. Katanya, anak itu sebentar lagi akan diangkat menjadi pegawai tetap di Dinas Tata Kota. Lalu ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, \u201cNggak heran. Ayahnya kan kepala bagian di sana.\u201d Dan kami pun tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku sangat senang waktu mendengar kabar mereka putus dua bulan kemudian. Aku tidak perlu tahu alasannya. Tidak penting. Maksudku, semua orang juga sudah tahu bahwa Bowo seorang&nbsp;<em>play boy<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu Amanda kembali jarang terlihat. Tapi itu tidak lama. Bahkan kemunculannya kembali menjadi lebih sering, lebih rutin, dan \u2026 terjadwal. Dia melewati rumahku pada pagi hari antara pukul 07.30 dan 07.40, dan sore harinya sekitar pukul 17.30 dengan mengenakan setelan kerjanya; celana panjang dan blazer biru tua. Dilihat dari jam berangkat yang agak siang dan pulangnya yang tidak terlalu sore, kupikir tempat kerjanya tidak jauh, bahkan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Di sekitar jam-jam itu, aku sudah bersiap untuk membuang sampah, menyiram tanaman di pot, atau sekadar berdiri di pintu pagar. Tidak harus setiap hari, supaya dia tidak curiga, yang penting setiap kali berpapasan dengannya, aku harus memberikannya kesan positif. Misalnya, aku menyapanya sambil memegang buku, supaya dia mengira aku suka membaca.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barangkali, apa yang aku lakukan berikutnya dianggap tidak pantas, tapi ini sekadar ingin tahu tempat kerjanya, sehingga tidak tepat jika disebut menguntit. Ide ini muncul begitu saja di suatu pagi ketika dia baru saja melewati rumahku. Setelah dia berbelok keluar dari gang, aku mulai berjalan mengikutinya. Dia menuju ke arah jalan raya, menaiki JPO, menyeberangi jalan raya, lalu berbelok masuk ke komplek ruko. Kantornya terletak di sudut di bagian belakang, dekat tempat parkir sepeda motor dan pintu keluar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tidak melakukannya setiap hari. Ada kalanya aku bahkan datang lebih dulu. Maksudku, aku sudah berada di sekitar kantornya sebelum dia tiba. Kadang aku datang siangnya untuk melihatnya makan. Dia membeli makan siang bersama dua teman kantornya. Lebih sering dibungkus dari makan di tempat. Dia menyukai soto dan pecel ayam, dan selalu membeli rujak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesekali aku mengikutinya saat dia pulang kerja. Dari jarak yang kupastikan cukup jauh agar suaraku tak mungkin didengarnya, aku bicara kepadanya. Aku menanyakan kabarnya, bagaimana pekerjaannya hari itu, apakah kita perlu mencari <em>baby sitter<\/em> untuk menjaga bayi kita, makan malam apa nanti, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang aku perlu menjelaskan mengapa aku tidak bekerja. Penjelasan ini mungkin agak panjang, tetapi aku berharap Anda bisa memahami keadaanku saat itu, bukan untuk mencari simpati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pernah bekerja, sebagai&nbsp;Business Analyst&nbsp;di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta. Berkendara dengan sepeda motor sejauh jarak 30 kilometer ke kantor dan 30 kilometer lagi pulangnya, menghirup polusi, dan pulang larut malam, yang sepertinya membuat paru-paru aku bermasalah. Tanda-tandanya sudah lama muncul ketika napasku ngos-ngosan setiap kali menaiki tangga, batuk yang tak kunjung reda, dan sesak napas di malam hari. Dokter klinik bilang penyebabnya efusi pleura, atau ada cairan menumpuk di rongga&nbsp;pleura. Anda mungkin mengenalnya sebagai paru-paru basah, tetapi kata dokter istilah itu tidak tepat. Satu-satunya cara supaya cepat sembuh, cairan itu harus dikeluarkan. Jadi, jarum suntik akan menembus paruku, lalu disedot keluar lewat selang. Dokter bilang tidak sakit, tetapi aku membayangkannya berbeda. Jika disuntik di pantat saja membuatku ketakutan setengah mati, bagaimana dengan suntikan di paru? Bukankah jarumnya lebih panjang? Ini yang menjadi alasan mengapa aku perlu waktu sebelum memutuskan untuk mengambil cuti berobat ke rumah sakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayahku menawarkan diri untuk menemaniku ke rumah sakit, tapi kupikir itu akan merepotkanku. Aku pergi naik sepeda motor, tiba di rumah sakit pukul setengah sembilan. Aku mendaftar untuk Poli Paru, menyerahkan kartu BPJS, dan diberi nomor antrian. Letak Poli Paru di sebelah kanan, tidak jauh dari pintu masuk setelah melewati lorong pendek. Ruang tunggunya memanjang dan lumayan luas, diterangi cahaya matahari yang masuk melalui lima jendela kayu tinggi. Poster tentang TBC dan bahaya merokok menempel di dinding. Puluhan wajah muram duduk mengantri menunggu panggilan. Aku duduk di bangku besi paling belakang, membelakangi jendela, di sebelah laki-laki tua berpakaian batik, berkopiah hitam, dan bau minyak angin sedang tidur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berada di sana serasa dekat dengan kematian. Di selasar, seorang remaja duduk di kursi roda dengan tabung oksigen dan selang yang menempel di hidungnya. Di sampingnya, seorang wanita, mungkin ibunya, tampak kelelahan. Agak jauh dari mereka, seorang laki-laki tua kurus memakai sarung juga duduk di kursi roda dengan tabung oksigen, ditemani seorang pemuda\u2014mungkin anak atau cucunya\u2014yang memijat-mijat tangannya. Pasien-pasien baru terus berdatangan, memenuhi ruangan, menyebar virus lewat mulut yang tak ditutup saat batuk, membuatku menyesal tidak membawa masker. Aku bangkit dan berjalan menuju jendela di sudut ruangan untuk udara segar dan ketenangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku masuk ruang periksa setelah menunggu satu setengah jam. Dokter spesialis yang menanganiku seorang perempuan gemuk berkerudung biru muda yang berusia empat puluhan. Aku naik ke ranjang periksa. Stetoskop menempel di punggung tanpa perlu membuka baju. Aku diminta menarik napas dalam-dalam dan menahannya sebentar. Punggungku diketuk-ketuk di beberapa bagian seperti yang dilakukan dokter klinik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMerokok?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak,\u201d jawabku. \u201cTidak pernah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia kembali ke mejanya dan menulis sesuatu atas kertas lalu menyerahkannya kepadaku. Itu surat rujukan untuk rontgen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pergi ke bagian radiologi di lantai dua. Antriannya banyak, tapi tidak lama. Aku diminta buka baju dan berdiri menempel di dinding. Sebuah monitor besar mengayun menutupi dadaku. Klik. Klik. Selesai. Aku memakai baju, petugas berkata hasilnya baru bisa diambil lusanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya buruk. Kabut putih menyelimuti kedua paru-paruku. Itu air yang banyak, sangat banyak. Dokter mengambil sampel cairan dari paru-paruku untuk dianalisis di laboratorium. Singkatnya hasilnya bagus. Jernih, meski agak kekuningan, dan tidak ada bakteri. Tetapi ketika lanjut untuk penyedotan total, cairan yang keluar hanya sekitar 10\u201315 mL. Hasilnya sama setelah dicoba lagi. Titiknya kurang tepat, katanya. Lalu, kami berpindah ke ruang obsgyn untuk USG paru-paruku. Beberapa tempat di punggungku diberi tanda X dengan spidol merah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJangan sampai terhapus,\u201d kata dokter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat berjalan ke luar ruangan, perawat berkata kepadaku, \u201cLagi nabung, Mas?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku sempat bingung sebentar sebelum paham yang dimaksud adalah menabung air.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku kembali besoknya untuk penyedotan ulang, tapi setelah dua kali jarum suntik menembus punggungku, cairannya tetap tidak bisa dikeluarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan lain: aku harus menelan empat kapsul besar obat selama enam bulan setiap pagi, tanpa jeda. Atau jika lupa, harus diulang lagi dari awal. Tidak ada pantangan menu makanan. Hari pertama pengobatan, air kencingku berwarna merah, lalu hari-hari berikutnya kembali normal. Minggu kedua pengobatan, mata dan tubuh aku menguning. Dokter bilang aku kena sakit liver. Kemudian dia merujukku pergi ke dokter internis di rumah sakit yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pergi ke lobi dan mendaftar untuk Poli Internis. Tidak ada antrian di Poli Internis. Tidak ada perawat. Pemeriksaannya singkat. Aku mesti menjalani tes laboratorium. Di laboratorium sampel darahku diambil. Besoknya aku kembali ke dokter internis dengan membawa hasil lab. Liverku keracunan obat, katanya. Aku disarankan menghentikan minum obat paru. Resep obat liver kutebus di apotik dekat rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menghabiskan sisa cuti tahunanku sebelum mengundurkan diri dari pekerjaanku untuk fokus ke penyembuhanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada pesangon. Perusahaan berbaik hati memberikan uang ucapan terima kasih dan bingkisan kue kaleng yang dikirim kurir ke rumah. Asuransi perusahaan masih menanggung biaya pengobatanku. Aku mendapatkan gaji terakhir dan bonus yang cair di akhir bulan. Berat badanku terjun bebas dari 75 kilogram menjadi 55 kilogram hanya dalam waktu dua minggu. Batukku semakin sering di malam hari, cairan di paru berbunyi saat berpindah posisi tidur. Ayah membuatkanku teh manis hangat waktu aku terbangun di tengah malam karena sesak napas. Hampir setiap hari mantan teman kerjaku bergantian menelponku, menanyakan kabarku. Para tetangga datang menjenguk, membawakan berbagai makanan, buah, uang, dan berbagai saran pengobatan tradisional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku mengikuti saran pengobatan dari siapa saja: aku minum rebusan remis, temu lawak, kunyit, jahe, daun sirsak, dan sirup\u2014jika itu disebut tradisional, dan dipijat refleksi setiap hari Rabu. Ayah memberitahuku bahwa jemaah di masjid, usai salat magrib, mendoakan untuk kesembuhanku. Setiap minggu aku cek darah dan menebus obat. Terlalu sering cek darah membuatku hampir pingsan. Setelah mempertimbangkan mahalnya biaya obat dan tes laboratorium yang tidak sebanding dengan kemajuannya, aku berhenti berobat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimanapun, aku menyukai keheningan yang damai ini, tanpa rutinitas meninggalkan rumah pukul 05.15, membuat bahan presentasi, rapat sampai larut malam, atau terjebak macet berjam-jam. Satu-satunya yang dirindukan dari pekerjaanku adalah menerima gaji dan bonus setiap tanggal dua puluh tujuh. Aku menghabiskan waktu dengan berjemur diri setiap pagi, membaca buku-buku yang lama tidak tersentuh, membangkitkan lagi hobi fotografiku, belajar desain grafis, dan merenungi hidup. Setelah dua bulan, aku jadi lebih baik; warna kuning di mata dan tubuhku pelan-pelan menghilang, menyisakan cairan di paru-paru. Memang, mustahil cairan di paru-paruku bisa hilang begitu saja, tapi aku percaya panas matahari membuat cairan itu menguap. Sakit juga yang membuatku dekat dengan Amanda. Begini ceritanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Undangan pernikahan itu sebenarnya untuk orang tuaku. Ayah memintaku datang karena ia dan Ibu ada undangan pernikahan lain di Jakarta. Aku menolak. Aku tidak (begitu) kenal Hani, sang mempelai wanita, begitu pun sepertinya teman-temanku. Pengetahuan tentang Hani hanya sebatas tahu rumahnya yang mewah itu. Tapi Ayah terus membujukku, mengatakan kapan lagi bisa kondangan di hotel bintang lima.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayah tidak tahu saat aku masih kerja aku pernah beberapa kali menghadiri pesta di hotel atau bahkan pernah sampai menginap. Tapi rasa-rasanya itu sudah lama betul. Aku mengambil surat undangan berwarna hijau tua di atas meja dan membacanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa sudah. Berikan angpao-nya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ayah menyerahkan kepadaku sebuah amplop yang sudah disegel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hotelnya terletak di Jakarta Selatan. Aku pergi naik sepeda motor. Parkir sepeda motor di sebuah lapangan kecil di luar hotel. Dua karangan bunga besar pernikahan Hani berdiri di samping pintu masuk. Di lobi aku melihat daftar acara <em>event signage<\/em>. Aku naik ke lantai dua, mengisi buku tamu atas nama ayahku, memasukkan uang angpao ke dalam kotak. Suvenirnya berupa sebuah tumbler hijau keren.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pestanya benar-benar mewah.&nbsp;Mungkin ada seribu orang yang datang. Pengantin prianya bule Italia. Nuansa Sundanya kental dengan alunan musik degung, pernak-pernik tradisional, dan pelaminannya yang megah seperti singgasana kerajaan. Gubukan makanan yang berjumlah puluhan berbaris di sebelah kanan dan kiri, masing-masing didampingi pelayan berdasi kupu-kupu.&nbsp;<em>Chef<\/em>-nya sendiri yang memeriksa memeriksa langsung hidangan di meja makan panjang. Di samping gapura ada pahatan es besar berbentuk angsa dan inisial nama mempelai, potongan aneka buah dan gelas berisi air mineral memenuhi meja bulat. Panggung musiknya besar,&nbsp;<em>sound system<\/em>-nya jernih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pergi ke sisi kanan, berdiri di antara dua gubukan makanan, mencari-cari orang yang kukenal. Bukan untuk bertemu, melainkan untuk dihindari. Para bule, meski tidak begitu banyak, terlihat mencolok dengan tubuh tinggi, kulit dan rambut terang. Mereka mengenakan kebaya dan kain batik untuk para perempuan, dan beskap krem atau kemeja batik untuk para pria, berbaur dalam antrian di meja prasmanan atau mengobrol dengan orang lokal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dugaanku betul, aku tidak melihat ada temanku yang datang. Tidak heran kalau dia tidak mengundang kami. Dia pastinya toh juga tidak kenal kami. Wajar saja. Kan dia lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar negeri. Dia sekolah SMP dan SMA di Singapura, lalu melanjutkan kuliahnya di Inggris. Satu-satunya momen aku bertemu dengannya waktu kami bersalaman usai salat idul fitri sekitar empat belas tahun lalu. Itu pun saat aku bersama orang tuaku. Aku naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan orang tua mereka. Mempelai pria, si bule itu, mengucapkan \u201cTerima kasih sudah datang\u201d dalam bahasa Indonesia yang fasih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku tidak tahu berapa uang yang dimasukkan ayahku ke dalam amplop, tapi aku yakin jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya makanan yang kusantap. Setelah menghabiskan semangkuk bakso, aku berpindah dari satu gubukan ke gubukan makanan lain, menikmati aneka roti, spageti, dan kebab. Pada saat mengantri makan siang, aku akhirnya menemukan satu temanku, Yusuf, yang datang sebagai qori saat akad nikah. Dan satu yang lain, Amanda, tentu saja, yang bertugas sebagai pagar ayu. Aku melihatnya saat berada di atas pelaminan tadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku duduk di sisi kiri gedung yang menghadap ke panggung. Di atas panggung, MC acara memperkenalkan seorang penyanyi perempuan cantik bergaun merah di sebelahnya. Si penyanyi tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu memperkenalkan dirinya. Aku mendengar orang di belakangku berbisik, \u201cDia kan yang pernah ikut lomba Indonesian Idol.\u201d Si penyanyi menyanyikan&nbsp;<em>Endless Love<\/em>, lagu yang seharusnya dinyanyikan berdua itu dinyanyikan sendiri dengan suara merdu. Tidak ada yang berdansa seperti di film-film, para tamu disibukkan makan siang dan mengobrol.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Makan siangku habis setelah dua lagu. Aku terlalu kenyang untuk pulang atau makan semangkuk bakso lagi. Jadinya aku diam saja di situ hingga rasa begah di perutku hilang. Tamu-tamu bertambah banyak, sebagian lain sudah pulang. Di meja hidangan, petugas katering mengisi nampan-nampan dan piring-piring makanan. Amanda datang mendekatiku dari samping, tetapi aku berpura-pura sedang menikmati musik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;\u201cSendirian, Kak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amanda mengenakan kebaya putih ketat, menampakkan belahan dadanya yang putih. Sanggulnya sudah dilepas, make-upnya sudah dihapus, sehingga yang tampak hanya wajah naturalnya. Matanya memakai&nbsp;<em>softlens<\/em>&nbsp;berwarna kelabu, bulir-bulir keringat menghiasi dahinya. Dia menarik kursi lalu duduk di sampingku. Tangannya diletakkan di sandaran kursiku seakan-akan dia sudah lama mengenalku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIya,\u201d jawabku, pura-pura terkejut. \u201cSebetulnya ayahku yang diundang, tapi nggak bisa datang. Ada undangan di tempat lain. Anak sepupu ayahku nikah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amanda juga tidak kenal si mempelai wanita. Dia jadi pagar ayu atas permintaan Ibu Hani. Ibu Hani dapat informasi tentang dirinya dari Ibu Wati yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Amanda. Ibu Hani merasa tidak enak jika tidak ada anak setempat yang jadi pagar ayu, begitu yang dikatakan Ibu Wati kepada Amanda minggu lalu. Sebetulnya Ibu Wati juga punya anak perempuan yang masih SMA, tapi anak itu sangat pemalu. Dia berpikir kenapa tidak Amanda saja?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amanda sudah terlalu sering menjadi pagar ayu sejak masih SD. Itu pekerjaan yang melelahkan dan biasanya tidak dibayar. Meski begitu, menjadi pagar ayu di pernikahan bule dan bertempat di hotel akan jadi pengalaman pertama baginya, apalagi jadwalnya lagi kosong hari itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku bahkan boleh memiliki seragamnya.\u201d Dia mengusap lengan kebayanya yang terlihat mahal. \u201cUntuk pekerjaan setengah hari, bayarannya lumayan. Kalau begini, aku sih mau saja pagar ayu jadi pekerjaan utama.\u201d Dia tertawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persiapannya seperti mau syuting film, lanjutnya. Kemarin dia melakukan gladi resik di hotel sekaligus&nbsp;<em>fitting<\/em>&nbsp;baju. Sarapan, makan siang, dan makan malamnya di restoran hotel. Minggu paginya dia dijemput untuk didandani, lalu menghadiri akad nikah, mendampingi mempelai wanita di upacara adat dan menjadi penerima tamu. Sekarang tugasnya sudah selesai. Dia tadinya mau pulang, ada sopir yang mengantarnya, tetapi tidak jadi setelah melihatku. Ada hal penting yang mau ditanyakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTanya apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia menggeser kursinya hingga menempel ke kursiku, dan lututnya menyentuh pahaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBenar kakak pernah sakit paru? Sudah sembuh?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menduga pasti Rulie yang memberitahunya. \u201c<em>Alhamdulillah<\/em>&nbsp;sudah sembuh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKenapa bisa kena, Kak? Berobat di mana? Berapa lama sembuhnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sakitku yang parah waktu itu pernah jadi obrolan hangat di lingkungan kami. Orang-orang merasa kasihan kepadaku. Saat itu aku sangat kurus dan terlihat menyedihkan. Dua tetangga kami meninggal dalam waktu yang berdekatan karena sakit berat, membuat mereka mengira hidupku tak akan lama. Ketika pada akhirnya aku sembuh, mereka menganggapku seperti satu-satunya penumpang yang selamat dari kecelakaan pesawat. Sebuah keajaiban. Kupikir cerita itu yang membuat Amanda penasaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi ternyata tidak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amanda menarik napas panjang setelah mendengar ceritaku. Tatapannya yang kosong mengarah ke panggung. Apakah aku menceritakannya terlalu dramatis? Di atas panggung, si penyanyi menawarkan para tamu untuk bernyanyi. Seorang pria bule berkumis tebal dengan batik hijau bergegas naik. Ia melambaikan tangan, menyapa para tamu, lalu memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia yang lancar. Si penyanyi bertanya mau nyanyi lagu apa. <em>Walk Away<\/em>, katanya. Aku tahu lagu itu. Penyanyinya Matt Monro. Ayahku punya kasetnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku juga pernah sakit paru,&#8221; kata Amanda. &#8220;Waktu kelas 2 SMP. Nggak separah kakak. Cuma ada flek di paru. Aku minum obat yang sama seperti yang kakak minum. Setelah delapan bulan aku dinyatakan sembuh. Tapi setelah itu aku malah jadi parno setiap kali batuk. Takut kambuh lagi. Perasaan itu masih ada sampai sekarang. Kakak juga merasakan hal yang sama?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan itu seharusnya terdengar biasa saja. Aku merasa sudah sembuh. Tidak lagi sesak nafas atau batuk, berat badanku kembali normal. Aku sudah sehat. Sangat sehat. Tapi fakta bahwa aku belum melakukan rontgen lagi membuat pertanyaan itu berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Aku ingat dokterku pernah mengatakan bahwa cairan di paru bisa saja balik lagi kalau penyebabnya belum ditangani.&nbsp;Mungkin belum benar-benar sembuh. Aku menarik napas panjang, dan berkata, \u201cIya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, sama-sama memandang ke atas panggung sebelum akhirnya Amanda berkata, \u201cJadi, sekarang kegiatan kakak apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pernah mendengar tetanggaku menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibuku, pertanyaan yang bisa juga bermaksud lain: Kenapa putranya belum bekerja lagi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang-orang memang selalu saja ingin tahu kegiatan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Untungnya jawaban ibuku sangat diplomatis. Dia bilang aku sedang masa pemulihan, jadinya aku tidak boleh terlalu capek dan belum boleh bekerja. Namun aku yakin Amanda tidak begitu. Itu hanya pertanyaan spontan, atau dengan kata lain, dia ingin mengenalku lebih jauh. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, aku mengatakan bahwa aku masih dalam masa pemulihan dan sedang mengembangkan&nbsp;diri dengan belajar banyak hal baru. Aku belajar desain grafis, fotografi, membaca novel,&nbsp;menulis cerpen, menanam cabai, yah apa saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHebat!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cWaktu luang harus bermanfaat, bukan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami ada di sana sampai lagu&nbsp;<em>Love Story<\/em>&nbsp;berakhir sekitar pukul 14.00. Aku mengantarnya pulang dengan sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tahapan ini, aku sudah tidak lagi menghitung di anak tangga berapa aku berada. Aku merasa kami saling memberikan kesan positif di pertemuan itu. Aku menyukai caranya mendengarkan ceritaku yang penuh perhatian. Mungkin dia mengalami perasaan yang sama terhadapku yang dipenuhi optimisme. Namun aku orang yang tahu diri. Aku baru saja memasuki lingkaran pertemanannya, berada di level yang sama dengan teman-temannya di Karang Taruna. Aku hanya diuntungkan dengan citra positifku sebelum aku sakit dan berhenti kerja. Contohnya, aku sampai saat ini jadi satu-satunya lulusan perguruan tinggi negeri di lingkungan kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baiklah, orang-orang mungkin sudah lupa atau tidak peduli akan hal itu, dan lebih melihat citra seseorang di masa sekarang. Sekarang mereka melihatku sebagai seorang pengangguran, tetapi mereka tidak tahu aku berprospek cerah. Aku sedang mengerjakan proyek pribadi, sebuah bisnis. Seperti perasaanku kepada Amanda, aku tidak perlu memberitahu proyek apa yang sedang kukerjakan. Pada waktunya nanti, ketika bisnisku sudah besar, orang-orang akan tahu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu aku tidak perlu tergesa-gesa menunjukkan perasaan suka kepada Amanda, apalagi sampai menyatakan cinta. Aku bersikap seperti biasa; aku menyapanya saat berpapasan atau hanya melihatnya dari balik kerai bambu. Aku tidak pernah menyebut namanya saat mengobrol dengan Rulie atau teman-temanku yang lain. Ketika teman-temanku bicara tentang dirinya, aku diam saja seakan pembicaraan itu tidak penting. Aku juga diam saja ketika ada di antara kami yang menunjukkan ketertarikan kepadanya. Aku juga tidak cemburu ketika melihatnya jalan dengan teman laki-lakinya. Bahkan ketika mendengar kabar dia sudah bertunangan, aku tidak kecewa, sedih, marah, atau menyesali diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amanda sendiri yang mengantarkan surat undangan pernikahannya padaku ketika kami berpapasan pada suatu sore saat aku sedang menyiram tanaman. Calon suaminya bernama Adam, dokter Spesialis Anak kenalan kakaknya. Tentu saja aku tidak berpikir ia adalah Adam yang sama dengan teman SD-ku. Nama lengkapnya saja berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku pergi ke pesta pernikahan Amanda naik sepeda motor, diboncengi Jaja\u2014temanku. Di sepanjang jalan menuju gedung pesta pernikahan Amanda, aku mengingat saat pertama kali aku melihat dirinya, saat pertama kali mendengar namanya, saat mengikutinya sampai ke kantornya, saat kami berkenalan di rumahnya, hingga saat kami mengobrol di pesta pernikahan Hani. Situasinya pasti akan berbeda seandainya saja aku tidak sakit berat. Jika aku tidak sakit berat, maka aku tidak akan berhenti bekerja. Jika demikian, aku punya keberanian untuk mendekati Amanda. Lalu, kami berpacaran dan merencanakan pesta pernikahan kami. Pada akhirnya, bernostalgia dan berandai-andai menjadi caraku untuk menghibur diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku dan Jaja masuk gedung di belakang rombongan iring-iringan pengantin yang berjalan pelan. Setibanya di dalam gedung, kami memisahkan diri dari rombongan itu dan bergabung dengan teman-teman kami yang lain di sisi kanan. Kami sama-sama terpukau oleh kecantikan Amanda. Diiringi alunan degung dan narasi MC yang menyentuh, kedua mempelai melakukan prosesi sungkeman. Terdengar suara isak tangis Amanda saat meminta restu ayahnya. Pak Maman berkali-kali mengusap air mata, lalu memeluk putrinya. Amanda mengenakan kebaya putih dan kerudung berhias bunga, duduk bersanding dengan suaminya yang tampan. Setelah prosesi selesai, kami berbaris menuju pelaminan. Aku bersalaman dengan Rulie dan ayahnya, lalu memberi selamat kepada Amanda dan suaminya. Sambil menikmati berbagai hidangan, mataku tidak pernah lepas dari wajah Amanda. Aku masih memandanginya saat dia menyalami para tamu, saat dia berfoto dengan teman-teman SMP-nya, saat dia berfoto dengan teman-teman SMA-nya, saat dia berfoto dengan rekan-rekan kerjanya, saat dia berfoto dengan teman-temannya di Karang Taruna, dan saat dia berfoto denganku.\u2726<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti menapaki anak tangga, aku mengenalnya setahap demi setahap, dan \u2026 lumayan lama. <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":514,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-84","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-pendek"],"blocksy_meta":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/mengintip-kerai-bambu-2-webp.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84"}],"version-history":[{"count":62,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":609,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84\/revisions\/609"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}