{"id":303,"date":"2026-04-26T20:51:59","date_gmt":"2026-04-26T13:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/?p=303"},"modified":"2026-08-08T11:50:16","modified_gmt":"2026-08-08T04:50:16","slug":"steik-tuna-pak-presiden","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/cerita-pendek\/steik-tuna-pak-presiden\/","title":{"rendered":"Steik Tuna Pak Presiden"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">\u201cKami makan di restauran,\u201d Keith berkata. \u201cAku, Pak Presiden, Ibu Negara, dan Dr. Lee.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith adalah pasien baruku, dan aku harus benar-benar mempelajari catatan medisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith mengalami gangguan nafas akut, demam di malam hari dan sering mengeluh masalah ginjalnya. Terapi yang diberikan dr. Lee hanya pengobatan jangka pendek dan ini sangat menggangguku. Namun, itu bukan masalah besar. Aku dokter profesional dan berpengalaman. Aku tahu lebih dari dua ribu komposisi obat berserta nama paten dan nama perusahaan farmasi yang memproduksinya. Itu karena aku selalu meminta Bob untuk membelikanku buku panduan daftar obat terbaru setiap tahun\u2014kami menyebutnya MIMMS\u2014sebagai upayaku mengikuti perkembangan obat-obatan terbaru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBaiklah Keith, buka kancing bajumu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith agak lama merespon permintaanku sehingga aku harus mengulang sekali lagi dengan lebih keras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMaafkan aku, Dok. Aku masih teringat Pak Presiden.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau selalu mengingatnya. Kau selalu ingin menceritakannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith membuka semua kancing bajunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKeith, kau tidak perlu membuka semuanya. Dua kancing saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOh, eh. Maaf, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith selalu minta maaf. Maaf untuk ini, maaf untuk itu. Aku tidak mengerti apa kesalahannya pada orang lain. Tapi aku seorang dokter profesional. Sering kali hanya dengan mendengar keluhan, aku bisa membantu penyembuhan pasien lebih cepat, meskipun itu terasa menggelikan dan aneh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi, kau makan malam apa dengan \u2026 Presiden kita?\u201d tanyaku sambil menahan geli ketika menyebut &#8220;Presiden kita&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau tertawa, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak. Aku tidak tertawa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa, kau tertawa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOk, Keith. Aku tertawa. Maafkan aku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau selalu minta maaf, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku selesai memeriksa detak jatungnya. Tidak ada masalah. Iramanya stabil dan terdengar sangat kencang di telinga. Stetoskop membuat kedua telingaku sakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSekarang buka mulutmu lebar-lebar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith membuka mulutnya sangat lebar, bau tidak sedap keluar dari dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKeluarkan lidahmu dan katakan: AAA.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith menuruti perintahku. Aku mengarahkan senter kecilku ke dalam mulut\u2014bau mulut membuatku hampir muntah. Kulihat satu graham atas dan dua graham bawah berlubang, lidahnya tampak pucat dan mengerut. Aku berpikir sebentar. Sepertinya gejala tifus. Tapi diagnosaku mengarah pada penyakit aneh yang terjadi belakangan ini, seperti covid-19, flu burung, atau antraks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith mengatakan sesuatu yang tidak jelas, menunjuk-nunjuk ke arah mulut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSebentar, Keith. Aku sedang berpikir.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith mengangguk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menentukan penyakit dan obat-obatan untuk pasien bukan pekerjaan mudah. Butuh ketelitian dan kesabaran. Ia seharusnya paham itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOke, kau boleh menutup mulutmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerima kasih, Dok. Aku sakit apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cEntahlah. Sekarang berbaringlah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menekan bagian kiri perutnya. \u201cKau merasa sakit di bagian ini?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak, Dok. Bagian itu baik-baik saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanganku berpindah ke bagian tengah, menekannya pelan-pelan, lalu naik sedikit, menekannya lebih keras.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHu-uh, itu sakit sekali, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku kembali ke mejaku, berpikir. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cek lab.? Kurasa tidak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Vaksin? Tidak perlu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menuliskan resep obat untuknya\u2014termasuk yang pernah diresepkan dr. Lee, ditambah vitamin dan penambah nafsu makan. Ya ampun Keith, kau terlihat sangat kurus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKemarilah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith melompat dari ranjang seperti anak kecil. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAda apa, Dok? Aku baik-baik saja?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDuduklah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku seorang dokter spesialis jantung lulusan Harvard yang bertugas multifungsi sejak menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Rumah sakit yang kumaksud adalah rumah sakit kelas satu di Chicago dengan fasilitas payah. Ini malam Natal, semua dokter merayakan Natal bersama keluarga. Kecuali aku, tentu saja, yang dengan tulus mendampingi pasien\u2014dan kedua juniorku di UGD. Satu jam lagi aku akan melakukan operasi usus buntu, lalu setelah itu berkunjung ke bangsal TBC. Dan dalam semua kasus, aku terpaksa menjadi psikiater.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApa yang kautulis, Dok?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cResep obat untukmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku tidak dapat suntikan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak. Tidak ada yang perlu disuntik. Bisakah kaudiam sebentar? Kau tidak ingin aku menulis resep yang salah, bukan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMaafkan aku, Dok.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau belum menceritakanku tentang makan malammu dengan presiden.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>Well<\/em>, Dok. Pak Presiden memesan makanan untukku. Beliau bertanya, apakah aku suka steik? Aku jawab aku sangat suka steik. Kautahu Dok, aku suka semua makanan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi, apa yang kaumakan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSteik tuna.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKaumakan steik tuna?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPak Presiden juga makan steik tuna. Sangat lezat, Dok. Kau harus mencobanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPresiden tidak makan steik. Ia vegetarian sama sepertiku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak, Dok. Pak Presiden makan steik tuna. Beliau bilang ini steik terlezat di Chicago. Aku menyukai sausnya. Presiden juga.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau salah, Keith. Presiden tidak makan daging. Begitu juga istri dan ketiga anaknya. Ia mendidik keluarganya dengan baik untuk hidup sehat. Kautahu, daging itu penuh dengan parasit. Parasit itu sumber penyakit. Aku mempelajarinya di Harvard.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTapi ikan bukan daging, Dok. Pak Presiden makan Steik tuna. Beliau menghabiskannya dan hampir nambah jika tidak menyadari dirinya sedang dikelilingi para wartawan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAha! Kau pintar, Keith. Tapi tidak cukup cerdas. Apakah kau punya cukup bukti bahwa Presiden makan steik? Kaubilang ada wartawan. Kau bisa menunjukkan beritanya padaku?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak, Dok. Aku tidak punya korannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi kau mengakui kalau aku yang benar dan kau yang salah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau benar, Dok. Aku yang salah. Maafkan aku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau selalu minta maaf, Keith.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku menyobek lembaran resep dan memberikannya pada Keith. Ia membacanya lama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau tidak perlu menatapnya. Berikan saja pada orang di apotek dan ambil obatnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBaik, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith berjalan ke luar ruangan, tapi kemudian ia berhenti di ambang pintu. Ia mengucapkan sesuatu yang tidak perlu untukku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerima kasih, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSemoga kau lekas sembuh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerima kasih, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keith memang pasien yang spesial. Dan untuk setiap pasien spesial yang kutangani, aku selalu mengikuti permainannya. Tapi menyetujui Presiden makan steik adalah mustahil. Aku tahu betul kawan masa kecilku itu. Obsesinya untuk bertemu Presiden mungkin yang membuatnya jadi sakit. Hmm, aku mungkin akan menulis itu di catatan medisnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku berdiri dan bercermin, memandang bangga diriku dalam jas putih sempit yang membuat ketiakku perih. Aku seharusnya memakai jas dr. Allan. Ukuran tubuhnya sama denganku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dr. Lee datang bersama Bob ketika aku sedang merapihkan meja. Aku menyukai dr. Lee karena dia seorang wanita cerdas meskipun harus kuakui ia tidak lebih cerdas dariku dalam menganalisa penyakit dan memberikan terapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi, Keith pasien terakhirmu, Joe?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMasih ada satu operasi dan beberapa kunjungan ke bangsal, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau sangat sibuk, ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBegitulah. Oh ya, aku memberi Keith resep obat terbaik. Ia akan sembuh dalam beberapa hari.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau memang hebat Joe. Jadi, boleh kuminta jasku kembali.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSilahkan, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku melepas jasnya dengan susah payah lalu memberikannya padanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDok, boleh aku bertanya sesuatu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTentu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApa betul Presiden menyukai steik tuna?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPresiden sangat menyukai steik tuna, Joe. Darimana kautahu? Ah, Keith pasti memberitahumu. Bob?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku melihat Bob memberikan koran pada Dr. Lee, lalu Dr. Lee menunjukkan padaku halaman depannya. Di situ ada foto Dr. Lee, Keith, Presiden dan Ibu Negara, dan Bob yang berdiri di samping mereka. Aku meminta koran itu untuk kubaca. Bob memberikannya padaku. Sayangnya, aku tidak membaca apapun di situ. Tapi, kalau kau bisa membaca, seperti inilah tulisannya di koran:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PRESIDEN MENYUMBANG US$ 200.000 UNTUK RSJ CHICAGO<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKau yang seharusnya makan malam dengan Presiden, Joe. Tapi malam itu kau terus menendang-nendang ranjang dan menyakiti dirimu sendiri. Bob terpaksa mengikatmu. Kauingat, kan?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAku ingat, Dok. Maafkan aku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSekarang kau kembalilah ke kamarmu. Bob akan mengantarmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cOkay, Dok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bob menarik tanganku dengan lembut, tidak seperti yang biasa dilakukannya padaku. Aku baru akan melangkah ketika teringat sesuatu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDr Lee?\u201d panggilku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cYa, Joe,\u201d jawabnya, tersenyum, seperti malaikat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerima kasih sudah mengusir iblis-iblis itu dari kamarku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSama-sama, Joe.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aku memandang Dr. Lee untuk terakhir kalinya malam itu. Aku menyukai 89 di bajuku. Dr. Lee bilang iblis-iblis tidak akan datang kembali selama 89 itu masih menempel di bajuku. <strong>(AR)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beliau bertanya, apakah aku suka steik? Aku jawab aku sangat suka steik.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":432,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-pendek"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":7}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/dinner-with-the-president-webp.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=303"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1141,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/303\/revisions\/1141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/432"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}