{"id":1122,"date":"2026-08-04T17:22:58","date_gmt":"2026-08-04T10:22:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/?p=1122"},"modified":"2026-08-08T11:41:33","modified_gmt":"2026-08-08T04:41:33","slug":"the-nightingale-and-the-rose","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/cerita-pendek\/the-nightingale-and-the-rose\/","title":{"rendered":"The Nightingale And The Rose"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sang Burung Bulbul dan Bunga Mawar<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">&#8220;Dia bilang akan berdansa denganku jika kubawakan setangkai mawar merah,&#8221; kata sang pelajar. &#8220;Tetapi tak ada mawar merah di kebunku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sarangnya di pohon ek tua, seekor burung bulbul mendengar keluhan itu. Dia mengintip sang pelajar dari balik celah dedaunan dan merasa heran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Tak ada setangkai pun mawar merah di seluruh kebunku!&#8221; kata sang pelajar. Matanya yang indah dipenuhi air mata. &#8220;Ah, ternyata kebahagiaan bergantung pada hal-hal yang paling kecil. Aku telah membaca semua yang ditulis orang-orang bijak dan menguasai seluruh rahasia filsafat. Namun hanya karena tak memiliki mawar merah, hidupku menjadi sengsara.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Inilah kekasih sejati,&#8221; kata burung bulbul. &#8220;Malam demi malam aku menyanyikan lagu tentang dirinya, meski belum pernah mengenalnya. Malam demi malam kuceritakan kisahnya kepada bintang-bintang. Kini akhirnya aku melihatnya. Rambutnya gelap bagai bunga hyacinth yang sedang mekar, bibirnya semerah mawar yang didambakannya. Namun hasrat telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesedihan membekaskan jejak di dahinya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Pangeran akan mengadakan pesta malam ini,&#8221; bisik sang pelajar, &#8220;dan gadis yang kucintai akan datang. Jika kubawakan dia mawar merah, dia akan berdansa denganku hingga fajar. Jika kubawakan mawar merah itu, aku akan mendekapnya, dia akan menyandarkan kepalanya di bahuku, dan tangannya akan menggenggam tanganku. Tetapi tak ada mawar merah di kebunku. Karena itu aku akan duduk sendirian, sementara dia berjalan melewatiku. Dia tak akan menoleh kepadaku, dan hatiku akan hancur.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Benar-benar kekasih sejati,&#8221; kata burung bulbul. &#8220;Apa yang selama ini kunyanyikan sungguh dialaminya. Apa yang bagiku adalah kebahagiaan, baginya adalah penderitaan. Sungguh, cinta adalah sesuatu yang ajaib. Nilainya lebih tinggi daripada zamrud dan lebih mahal daripada opal yang paling indah. Mutiara maupun buah delima tak mampu membelinya. Cinta tidak dijual di pasar, tidak dapat dibeli dari para pedagang, dan tak dapat ditukar dengan emas.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Para musisi akan duduk di panggung,&#8221; kata sang pelajar, &#8220;memetik dawai-dawai mereka, dan gadis yang kucintai akan menari mengikuti alunan harpa dan biola. Gerakannya begitu ringan hingga seolah-olah kakinya tak pernah menyentuh lantai. Para pelayan berseragam akan berkerumun mengelilinginya. Tetapi dia tidak akan berdansa denganku, karena aku tak membawa mawar merah untuknya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu ia merebahkan diri di atas rerumputan, menyembunyikan wajah di balik kedua lengannya, dan menangis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mengapa ia menangis?&#8221; tanya seekor kadal hijau kecil yang berlari melintas dengan ekornya menjulang tegak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ya, mengapa?&#8221; tanya seekor kupu-kupu yang beterbangan mengikuti cahaya matahari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ya, mengapa?&#8221; bisik bunga-bunga daisy kepada sesamanya dengan suara lirih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Karena dia menginginkan setangkai mawar merah,&#8221; jawab burung bulbul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Hanya karena setangkai mawar merah?&#8221; seru mereka. &#8220;Betapa konyolnya!&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Si kadal kecil, yang memang agak sinis, tertawa terbahak-bahak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun burung bulbul memahami rahasia kesedihan sang pelajar. Dia tetap diam di atas dahan pohon ek, tenggelam dalam renungan tentang misteri cinta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak lama kemudian dia mengembangkan sayap-sayap cokelatnya dan terbang ke angkasa. Dia meluncur di antara pepohonan bagaikan bayangan, lalu melintas di atas taman secepat bayangan itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah hamparan rumput berdiri sebatang pohon mawar yang elok. Begitu melihatnya, burung bulbul segera terbang menghampiri dan hinggap di salah satu dahannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Berikan aku setangkai mawar merah,&#8221; katanya, &#8220;maka aku akan menyanyikan lagu terindah untukmu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon mawar itu menggeleng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mawar-mawarku berwarna putih,&#8221; katanya, &#8220;putih seperti buih di permukaan laut, bahkan lebih putih daripada salju di puncak gunung. Pergilah kepada saudaraku yang tumbuh di bawah jam matahari tua. Mungkin dia dapat memberimu apa yang kauinginkan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka burung bulbul terbang menuju pohon mawar yang tumbuh di dekat jam matahari tua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Berikan aku setangkai mawar merah,&#8221; katanya, &#8220;maka aku akan menyanyikan lagu terindah untukmu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon itu menggeleng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mawar-mawarku berwarna kuning,&#8221; katanya, &#8220;kuning seperti rambut putri duyung yang duduk di singgasananya. Bahkan lebih kuning daripada bunga bakung liar yang bermekaran di padang sebelum tukang rumput mengayunkan sabitnya. Pergilah kepada saudaraku yang tumbuh di bawah jendela kamar sang pelajar. Mungkin dia dapat memberimu apa yang kauinginkan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka burung bulbul terbang menuju pohon mawar yang tumbuh di bawah jendela kamar sang pelajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Berikan aku setangkai mawar merah,&#8221; katanya, &#8220;dan aku akan menyanyikan lagu terindah untukmu.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon mawar itu menggeleng.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mawar-mawarku memang merah,&#8221; katanya, &#8220;merah seperti kaki-kaki merpati. Bahkan lebih merah daripada karang kipas raksasa yang bergoyang di dasar laut. Tetapi musim dingin telah membekukan pembuluh-pembuluhku, embun beku merusak kuncup-kuncupku, badai mematahkan dahan-dahanku, dan sepanjang tahun ini aku tak akan menghasilkan setangkai mawar pun.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Aku hanya membutuhkan satu mawar merah,&#8221; seru burung bulbul. &#8220;Hanya satu mawar merah. Tidak adakah cara lain untuk mendapatkannya?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ada satu cara,&#8221; jawab pohon mawar. &#8220;Tetapi caranya begitu mengerikan hingga aku nyaris tak sanggup mengatakannya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Katakan saja,&#8221; kata burung bulbul. &#8220;Aku tidak takut.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Jika kau menginginkan mawar merah,&#8221; kata pohon mawar, &#8220;kau harus menciptakannya dengan alunan musik di bawah cahaya bulan dan mewarnainya dengan darah dari jantungmu sendiri. Kau harus bernyanyi untukku dengan dadamu menempel pada duriku. Sepanjang malam kau harus bernyanyi, sementara duriku menembus jantungmu, hingga darah kehidupanmu mengalir ke dalam tubuhku dan menjadi milikku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kematian adalah harga yang terlalu mahal demi setangkai mawar merah,&#8221; gumam burung bulbul. &#8220;Namun kehidupan memang amat berharga bagi setiap makhluk. Sungguh menyenangkan duduk di hutan yang hijau, memandang matahari berarak dengan kereta emasnya, dan bulan dengan kereta mutiaranya. Harum bunga hawthorn memenuhi udara, sementara bluebell bersembunyi di lembah dan heather bermekaran di lereng bukit. Tetapi cinta lebih berharga daripada kehidupan. Apalah arti jantung seekor burung dibandingkan dengan jantung seorang manusia?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu dia mengembangkan sayap-sayap cokelatnya dan terbang ke angkasa. Dia melintas di atas taman bagaikan bayangan, kemudian menyusup di antara pepohonan laksana bayangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang pelajar masih terbaring di atas rerumputan, tepat di tempat burung bulbul meninggalkannya. Air mata masih membasahi kedua matanya yang indah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bergembiralah,&#8221; kata burung bulbul. &#8220;Bergembiralah, sebab kau akan memperoleh mawar merahmu. Aku akan menciptakannya dengan nyanyian di bawah cahaya bulan dan mewarnainya dengan darah dari jantungku sendiri. Sebagai balasannya, hanya satu yang kuminta darimu: jadilah seorang kekasih sejati. Sebab cinta lebih bijaksana daripada filsafat, betapapun bijaksananya filsafat, dan lebih perkasa daripada kekuasaan, betapapun perkasanya kekuasaan. Sayap-sayapnya berwarna nyala api, tubuhnya pun laksana api. Bibirnya semanis madu, dan napasnya seharum wewangian.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang pelajar mengangkat kepalanya dan mendengarkan. Namun ia tidak memahami sepatah kata pun yang diucapkan burung bulbul. Yang ia ketahui hanyalah apa yang tertulis di dalam buku-bukunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi pohon ek memahami semuanya, dan ia pun diliputi kesedihan. Pohon itu sangat menyayangi burung bulbul kecil yang telah membangun sarangnya di antara dahan-dahannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Nyanyikan satu lagu terakhir untukku,&#8221; bisiknya. &#8220;Aku akan sangat kesepian setelah kau pergi.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka burung bulbul pun bernyanyi untuk pohon ek, dan suaranya sebening air yang mengalir dari guci perak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah burung bulbul selesai bernyanyi, sang pelajar bangkit. Ia mengeluarkan buku catatan dan sebatang pensil dari sakunya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Burung itu memang memiliki bentuk yang indah,&#8221; gumamnya sambil berjalan menjauh melewati pepohonan. &#8220;Itu tak dapat disangkal. Tetapi apakah dia memiliki perasaan? Kurasa tidak. Seperti kebanyakan seniman, dia hanya pandai bernyanyi, tetapi tidak sungguh-sungguh tulus. Dia tak akan mengorbankan dirinya demi orang lain. Yang dipikirkannya hanya musik. Semua orang tahu bahwa seni itu egois. Meski demikian, harus kuakui, lagu-lagunya memiliki irama yang sangat indah. Sayang sekali semua itu tak berarti apa-apa dan tak memiliki manfaat praktis.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesampainya di kamar, ia merebahkan diri di ranjang kecilnya dan mulai memikirkan gadis yang dicintainya. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika bulan naik menerangi langit, burung bulbul terbang menuju pohon mawar. Dia menempelkan dadanya pada duri pohon itu. Sepanjang malam dia bernyanyi dengan dada yang terus menekan duri, sementara bulan yang dingin dan sebening kristal mendengarkannya. Semakin lama duri itu menembus dadanya semakin dalam, dan darahnya mulai mengalir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia menyanyikan lagu tentang lahirnya cinta di dalam hati seorang pemuda dan seorang gadis. Dan di pucuk pohon mawar itu perlahan-lahan merekah sekuntum bunga yang ajaib. Kelopaknya membuka satu demi satu, seiring bait demi bait lagunya. Mula-mula mawar itu pucat seperti kabut yang menggantung di atas sungai; pucat seperti fajar yang baru menyingsing, dan keperakan laksana sayap-sayap pagi. Sebagaimana bayangan mawar di cermin perak, sebagaimana bayangan mawar di permukaan kolam yang tenang, demikianlah rupa mawar yang sedang mekar di pucuk pohon itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi pohon mawar berkata, &#8220;Tekanlah duriku lebih kuat, bulbul kecil. Tekan lebih kuat. Kalau tidak, fajar akan datang sebelum mawar itu sempurna.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka burung bulbul menekan dadanya lebih kuat lagi ke duri itu. Nyanyiannya pun mengalun semakin lantang, sebab kini dia menyanyikan lagu tentang lahirnya hasrat di dalam jiwa sepasang insan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlahan rona merah muda mulai merambat ke kelopak mawar, bagaikan semburat di wajah mempelai pria ketika mencium bibir mempelai wanitanya. Namun duri itu belum mencapai jantung burung bulbul, sehingga jantung mawar masih tetap putih. Hanya darah yang mengalir langsung dari jantung burung bulbul yang dapat memerahkan jantung sang mawar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekali lagi pohon mawar berseru, &#8220;Tekan lebih kuat, bulbul kecil! Tekan lebih kuat! Kalau tidak, fajar akan tiba sebelum mawarku sempurna.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka burung bulbul menekan dadanya semakin kuat ke duri itu. Akhirnya duri itu menembus jantungnya, dan rasa sakit yang tajam menikam sekujur tubuhnya. Sakit itu pahit\u2014amat pahit. Namun nyanyiannya justru semakin menggebu, sebab kini dia menyanyikan tentang cinta yang disempurnakan oleh kematian; tentang cinta yang tak berakhir bahkan di dalam kubur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan mawar yang ajaib itu pun menjadi merah\u2014merah laksana langit di ufuk timur menjelang fajar. Kelopak-kelopaknya semerah cahaya pagi, dan jantungnya berkilau merah bagai batu rubi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi suara burung bulbul kian lama kian melemah. Sayap-sayap kecilnya mulai bergetar, dan pandangannya diselimuti kabut. Semakin lirih nyanyiannya, semakin terasa sesuatu mencekik tenggorokannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu dia menyanyikan lagu yang terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bulan putih mendengarnya. Terpesona oleh nyanyian itu, bulan melupakan datangnya fajar dan tetap bertahan di langit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mawar merah yang mendengar lagu itu bergetar penuh sukacita, lalu membuka seluruh kelopaknya kepada udara pagi yang sejuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gema nyanyian itu mengalir hingga ke gua-gua berwarna ungu di lereng bukit, membangunkan para gembala dari mimpi mereka. Gema itu terus hanyut mengikuti aliran sungai, lalu membawa pesannya ke lautan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lihat! Lihat!&#8221; seru pohon mawar. &#8220;Mawar itu telah mekar.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun burung bulbul tidak menjawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dia terbaring tak bernyawa di antara rerumputan yang tinggi, dengan duri masih tertancap di jantungnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjelang tengah hari, sang pelajar membuka jendelanya dan memandang ke luar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Ah, sungguh keberuntungan yang luar biasa!&#8221; serunya. &#8220;Betapa merahnya mawar itu! Seumur hidupku belum pernah kulihat mawar seindah ini. Pasti bunga ini memiliki nama Latin yang sangat panjang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia membungkuk, memetik mawar itu, lalu mengenakan topinya dan bergegas menuju rumah profesor sambil membawa mawar di tangannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Putri profesor sedang duduk di ambang pintu sambil menggulung benang sutra biru. Anjing kecil peliharaannya berbaring di dekat kakinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kau pernah berkata akan berdansa denganku jika kubawakan setangkai mawar merah,&#8221; kata sang pelajar. &#8220;Lihatlah, inilah mawar paling merah di dunia. Kenakanlah malam ini di dadamu. Saat kita berdansa bersama, mawar ini akan membisikkan kepadamu betapa besar cintaku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gadis itu mengerutkan kening.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kurasa mawar itu tidak serasi dengan gaunku,&#8221; katanya. &#8220;Lagipula, keponakan bendahara istana telah menghadiahiku beberapa perhiasan. Semua orang tahu bahwa perhiasan jauh lebih berharga daripada bunga.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih,&#8221; kata sang pelajar dengan kesal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu ia melemparkan mawar itu ke jalan. Mawar itu jatuh ke selokan, dan sesaat kemudian roda sebuah gerobak melindasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Tidak tahu berterima kasih?&#8221; balas gadis itu. &#8220;Kau sendiri sungguh kasar. Lagi pula, siapa kau sebenarnya? Hanya seorang pelajar. Bahkan aku yakin kau tidak memiliki gesper perak pada sepatumu seperti yang dimiliki keponakan pejabat istana.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah berkata demikian, dia bangkit dari kursinya lalu masuk ke dalam rumah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Betapa bodohnya cinta,&#8221; gumam sang pelajar sambil berlalu. &#8220;Cinta bahkan tidak setengah bergunanya logika. Cinta tidak pernah membuktikan apa pun. Yang diceritakannya hanyalah hal-hal yang tak akan pernah terjadi, dan yang dipercayakannya kepada kita hanyalah hal-hal yang tidak benar. Sungguh, cinta sama sekali tidak praktis. Dan di zaman seperti sekarang, menjadi praktis adalah segalanya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia pun kembali kepada Filsafat dan mulai mempelajari Metafisika.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesampainya di kamar, ia mengambil sebuah buku besar yang berdebu, lalu mulai membacanya.<strong>(AR)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Betapa bodohnya cinta,&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":1125,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[4],"tags":[11],"class_list":["post-1122","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-pendek","tag-oscar-wilde"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":7}},"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/The-nightingale-and-the-rose.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1122","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1122"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1122\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1133,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1122\/revisions\/1133"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1125"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1122"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1122"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakartachronicle.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1122"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}