Wawancara Kerja

Sekarang, jalan bersama orang tua sendiri terasa ganjil. Aku sudah bukan anak kecil lagi yang perlu ditemani.

Panggilan wawancara kerja itu datang lewat telepon sekitar pukul empat sore waktu aku  main bola. Ibuku, yang mengangkat telepon, pergi ke lapangan bola tidak jauh dari rumah, memanggilku dari pinggir lapangan, tangannya memberi isyarat sedang menelpon. Main bola dihentikan sejenak. Semua mata memandang ke arahku. Aku bergegas meninggalkan lapangan, berlari mendahului ibuku, masuk ke rumah tanpa melepas sepatu—mengabaikan Lulu, adik perempuanku yang berusia delapan tahun, yang berkata, “Bang, ada telepon!”—pergi ke ruang tengah, mengatur nafas sebentar, dan menjawab telepon. Aku ingat perusahaan itu. Aku menemukan lowongannya di koran hari Minggu.

“Siapa yang telpon?” tanya ibuku setelah aku menutup telepon.

“Wawancara kerja, Mak.”

“Wawancara kerja?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Jakarta.”

“Kapan?”

“Rabu.”

Ibu langsung memberitahu Ayah kabar itu begitu Ayah pulang kerja. Ayah yang terlihat sangat bangga kepadaku, menyalamiku dan memberiku selamat. Setelah salat magrib Ayah mengeluarkan mengeluarkan setumpuk kemeja dan celana panjang dari lemari untuk kupakai buat wawancara kerja. Bau kamper menusuk hidungku. Pakaian itu tidak semuanya milik Ayah, sebagian milik pamanku yang bekerja di bank. Ayah dan pamanku berbadan besar, tetapi Ayah lebih gemuk.

“Ada yang lain yang lebih kecil?”

Ayah pergi ke kamarnya dan kembali dengan setelan dalam pembungkus plastik laundry. Aku membukanya. Ada jas, kemeja putih dan celana panjang biru tua, yang bisa kupastikan pemberian pamanku. Kemejanya berbahan lembut, ukuran pas dengan badanku. Celananya memang agak longgar, tetapi ikat pinggang akan membuatnya pas. Ayah juga membawakanku dua pasang sepatu; sepasang berwarna hitam dan formal, yang lain berwarna cokelat dan kasual. Aku memilih yang warna cokelat.

“Jangan terlambat,” kata Ayah, memberiku nasihat wawancara kerja. “Datang lima belas menit sebelum wawancara kerja. Ketuk pintu pelan-pelan. Agak membungkuk saat masuk ruangan. Ucapkan selamat pagi. Jabat tangan yang mantap, tapi jangan terlalu kuat.” Kemudian Ayah menyuruhku melakukan yang dikatakannya. Aku melakukannya dengan malu-malu dan mesti mengulangnya beberapa kali karena tidak sesuai dengan keinginan Ayah. Lulu menertawakanku yang terlihat seperti orang bodoh. Kemudian Ayah melanjutkan. “Duduk tegak seperti ini.” Ayah menegakkan tubuhnya dengan dada agak membusung. “Jangan menunduk. Jawab dengan suara yang jelas kalau ditanya. Jangan bicara seperti orang kumur-kumur.” Ia menirukan orang bicara dengan suara tidak jelas yang membuat kami tertawa. Kemudian setelah itu ia mencontohkan bagaimana menggunakan bahasa Inggris saat wawancara kerja. “Good morning, Sir.” “How are you, Sir?” “I’m fine, Sir.”

Tapi aku lebih mencemaskan bagaimana aku pergi ke sana. Aku sama sekali buta tentang Jakarta.

“Naik apa ke sana?”

“Nanti Ayah yang antar.”

Ayah tahu jalan-jalan dan tempat-tempat di Jakarta karena pernah tinggal dan bekerja di awal masa-masanya merantau dari Sumedang, kampung halamannya, setelah lulus STM. Sebelum mendapatkan pekerjaan tetap dan pindah ke Bekasi, ia bekerja serabutan. Ia pernah jadi tukang bangunan, sales kosmetik, dan pelayan di rumah makan. Ia pernah tidur di masjid dan di kontrakan petak berdinding triplek. Kupikir, untuk orang yang tinggal di Jakarta kurang dari setahun, pengalamannya sangat banyak. Ia mengambil jatah cutinya demi mengantarku.

“Harus berangkat pagi-pagi benar kalau tidak mau kena macet.”

Aku tidak ingat kapan terakhir pergi dengan Ayah. Mungkin waktu aku masih kelas satu atau dua SMP. Saat itu aku selalu antusias jika diajaknya berpergian, apalagi berkunjung ke rumah paman atau bibiku. Aku bisa bertemu sepupu-sepupuku, dimanjakan paman atau bibi dengan dibelikan aneka jajajan, dihadiahi mainan atau diberikan uang. Sekarang, jalan bersama orang tua sendiri terasa ganjil. Aku sudah bukan anak kecil lagi yang perlu ditemani.

Aku mencoba pakaian wawancara kerjaku dan melihat diriku yang terlihat sangat tampan di bercermin. Aku menyetrikanya, melipat celana panjang dan menaruhnya di atas meja belajar, dan menggantung kemejaku di gantungan pintu. Aku membersihkan sepatuku dengan lap basah. Aku memandangi kemeja wawancara kerjaku sebelum tidur, sambil membayangkan seperti apa wawancaranya besok. Apakah aku bisa melaluinya? Memikirkan itu membuatku hampir tidak bisa tidur.

Ternyata aku tidur lelap sekali, sampai-sampai tidak mendengar Ayah yang berulang kali mengetuk-ngetuk pintu kamarku paginya.

“Bisa nggak sih wawancaranya ditunda?” begitu yang terlintas di kepalaku saat bangun tidur.

Aku menyeret kakiku ke kamar mandi dengan malas, bengong sebentar di atas kloset sebelum memaksa tanganku menyiram air ke atas kepala. Air dingin membuat badanku segar, mataku perih karena sampo. Aku salat subuh dan berdoa supaya wawancaranya berjalan lancar. Ibu sudah menyiapkan sarapan, tetapi karena takut kesiangan Ayah bilang sarapannya nanti di jalan saja.

Kami pergi pukul 05.20. Aku membawa berkas lamaran, pulpen dan buku tulis untuk mencatat di dalam tas ransel. Aku mencium tangan ibuku dan mengucap salam. Ketika kami baru berjalan sekitar sepuluh meter, Lulu muncul di pagar, memanggil namaku sambil melambaikan tangan. Kami naik angkot. Ayah memberiku lima ratus rupiah untuk ongkos yang kemudian kuserahkan pada sopir saat kami turun. Terminal bus sudah ramai meski langit masih gelap. Kami berjalan melewati barisan bus dengan kernet yang berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Kami naik bis no. 17. Aku duduk di samping jendela kaca, Ayah mengatur kisi-kisi AC supaya tidak mengarah ke kepalanya, aku juga. Rombongan pedagang permen, pedagang tahu, pedagang koran datang dan pergi. Ayah memanggil tukang koran, membeli koran, membacanya sebentar. Kernet terus menaikkan penumpang hingga para penumpang berdiri berdesakan. Bus meninggalkan terminal ketika langit mulai terang. Ayah membayar tujuh ribu untuk ongkos kami berdua, lalu tenggelam dalam bacaan korannya. Sementara aku memandang ke luar, memperhatikan mobil-mobil yang saling berkejaran dan barisan bangunan yang silih berganti.

Waktu berlalu begitu cepat. Rasa-rasanya baru kemarin aku mendaftar di SMA, berkenalan dengan teman-teman baru, bergabung dengan tim sepak bola sekolah, menjadi Ketua OSIS, jatuh cinta dengan teman sekelas, mengikuti ujian akhir, menerima ijazah. Aku bisa saja lanjut kuliah, tetapi bukan orang yang egois. Orang tuaku sudah dua belas tahun membiayai pendidikanku dan aku tidak boleh membebani mereka lagi. Jadi, aku memutuskan untuk bekerja. Aku mempersiapkan diri dengan membeli buku panduan kerja seharga dua puluh dua ribu, di mana aku mendapatkan tips menulis surat lamaran dan membuat CV. Aku mengirim surat lamaran kerja setiap hari; lewat kantor pos, atau datang langsung ke perusahaan yang biasanya kutitip di pos satpam, atau menaruhnya di meja depan kantor Depnaker. Aku mengeluarkan banyak uang untuk foto kopi berkas, cetak pas foto, beli amplop dan kertas folio. Di bulan September aku mendaftar pelatihan BLK. Selama dua bulan aku belajar jaringan dan servis komputer. Aku mendapat sertifikat dengan nilai memuaskan, tetapi lowongan untuk keahlian itu selalu mensyaratkan ijazah sarjana.

Bus memelan, kemudian berhenti, lalu bergerak pelan-pelan dan berhenti bergantian. Kami berada dalam kemacetan yang panjang. Ayah tertidur dengan kepalanya tertunduk dan tangan yang masih memegang koran. Penat dan rasa bosan merasuki diriku. Jam berapa sekarang? Apakah aku sudah terlambat? Aku memejamkan mata dan sempat tertidur. Jalanan masih macet waktu aku terbangun, dan baru benar-benar lancar saat bus berbelok ke Cawang.

“Masih jauh?”

“Dua puluh menit lagi,” kata Ayah.

Ketika melintasi jalan layang, aku melihat patung di atas tiang beton melengkung. Ayah bilang itu namanya patung Pancoran. Ketika kami melewati jalanan berputar, Ayah berkata, “Ini namanya Jembatan Semanggi. Kemudian kami memasuki jalanan dengan gedung-gedung pencakar langit. “Ini namanya jalan Sudirman.” Bus berhenti di halte di depan salah satu gedung dan menurunkan banyak penumpang. Aku memandangi salah satu gedung itu sampai ke puncaknya dengan kekaguman. Aku tidak tahu apakah perusahaan tempatku wawancara kerja berada di gedung pencakar langit, tetapi aku bermimpi suatu saat nanti aku akan kerja di salah satu gedung itu. Aku terus memandangi gedung-gedung yang kami lewati sambil membaca nama-namanya, yang kebanyakan dinamai Tower atau Menara. Ayah menyebut Bundaran HI dan Hotel Indonesia ketika kami melewati dua tempat itu, dan selepas dari situ kami bersiap untuk turun.

“Sarinah,” kata Ayah kepada kernet bus.

Kernet bus mengetuk kaca pintu dengan koin, berteriak, “Tahan, tahan.” Bus menepi dan berhenti di depan halte bus.

Aku sempat bingung ketika Ayah menyebut Sarinah, seingatku Sarinah itu majalah, ternyata itu pusat perbelanjaan. Kami turun tepat di seberangnya. Matahari bersinar terik, tetapi Ayah tidak juga beranjak ke tempat teduh. “Harusnya turun di sana,” kata Ayah, menunjuk jauh ke sebelah kirinya.

Sudah dua bajaj menghampiri kami sejak kami berdiri di situ. Ketika bajaj yang ketiga berhenti di depan kami, Ayah memberhentikannya. Ia mengatakan tujuan kami kepada Sopir bajaj. Sopir bajaj menunjuk angka lima dengan jari-jarinya, yang artinya lima ribu rupiah untuk ongkosnya. Ayah mengangguk. Sopir bajaj membukakan pintu untuk kami tanpa turun dari bajaj. Aku yang naik duluan dan kami duduk di kursi yang sempit.

Bajaj melaju dengan bunyi knalpot cempreng yang memekakkan telinga, membuat suara Ayah hampir tidak terdengar saat bicara.

“Apa?!” kataku setengah berteriak.

“Si Maman mau berangkat umroh,” kata Ayah lebih keras. “Sabtu depan pengajiannya.”

Maman itu pamanku, adik Ayah yang tinggal di Pondok Kelapa, yang kerja di bank. Ayah mengatakan itu sekadar memberitahu, bukan untuk mengajakku. Ia tahu aku pasti akan menolak jika pergi ke acara pengajian pamanku. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Ayah bisa saja menyebutkan tempat-tempat ikonik yang kami lewati, seperti gedung Bank Indonesia. Itu lebih karena suara Ayah kalah dari knalpot bajaj dan jarak perjalanan kami yang pendek, yang kalau tidak terburu-buru, kupikir kami bisa berhemat dengan jalan kaki.

“Itu gedungnya,” kata sopir bajaj. Ayah memberikannya lima ribu, lalu kami turun dari bajaj.

Aku membaca papan nama perusahaannya. Ya, benar. Itu perusahaannya seperti yang disebut di telepon. Ekspektasiku sedikit menurun saat melihat gedungnya. Bukan pencakar langit seperti gedung-gedung di Sudirman, tetapi tidak juga kecil seperti ruko—aku menghitung ada empat lantai. Meski begitu, paling tidak aku tidak kesulitan mencari tempat makan. Tepat di depannya ada gerobak mie ayam di samping trotoar ramai pembeli. Lahan kosong di sebelahnya ada warteg. Mepet ke tembok pembatas, di atas saluran air, ada warung kecil yang menjual makanan ringan dan air minum. Lebih jauh lagi kuliat ada warung-warung tenda makan lain. Penjaga warung, seorang pria tua kurus dengan topi lusuh dan kemeja batik lengan pendek cokelat, sedang menata dagangannya. Ayah mengambil dua botol air mineral dari kotak pendingin, membayarnya, memberikannya satu untukku. Kami duduk bangku kayu panjang dan minum.

“Jam berapa, Mang?” tanya Ayah kepada penjaga warung.

Penjaga warung melihat jam di tangan kirinya. “Delapan lewat sepuluh,” katanya dalam logat Sunda.

Ayah meletakkan botol minumannya di bangku dan bangkit. “Tunggu sebentar.” Ia pergi ke tukang bubur ayam dan dua mangkuk membeli bubur ayam untuk sarapan kami. Perutku memang lapar, tetapi kupikir sebungkus roti warung sudah cukup. “Ayo, makan,” kata Ayah. Itu semangkuk bubur ayam porsi jumbo dengan cakwe, suiran ayam yang banyak dan dua tusuk jeroan sate yang membuatku saat memakannya, karena kupikir pasti harganya tidak murah. Setelah makan, aku menanyakan jam kepada pemilik warung.

“Jam berapa, Mang?”

“Setengah sembilan.”

Sudah waktunya. Aku mengambil tas, memasukkan botol minumanku ke dalam tas, dan pamit pada Ayah.

“Jangan lupa baca bismillah,” kata Ayah.

Pintu gerbang itu berjarak tidak lebih dari sepuluh langkah, tetapi terasa jauh karena aku akan meninggalkan Ayah sendirian. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ayah sedang tersenyum sambil melambaikan tangan lalu mengacungkan jempolnya. Aku melewati satpam yang sedang mengatur mobil keluar, dan menghampiri satpam lain di pojok gedung.

“Pagi, Pak,” sapaku. “Saya mau wawancara kerja.”

“Langsung ke resepsionis.”

“Terima kasih.”

Aku masuk ke lobi yang sepi. Resepsionisnya, seorang perempuan kurus berambut pendek, tersenyum kepada saat sedang menelpon.

“Ada yang bisa dibantu?” katanya usai menelpon.

“Saya mau wawancara kerja.”

Dia mengambil lembaran kertas dan meletakkannya di atas meja, berkata, “Isi nama, alamat, jam kedatangan, nomor telepon, posisi yang dilamar, dan paraf.” Dia menunjuk kolom-kolom yang harus kuisi dengan pulpen, dan meletakkan pulpennya di atas kertas untuk kupakai.

Aku mencari namaku dan menemukannya di urutan empat belas, satu-satunya kolom yang belum diisi. Aku terlambat? Aku mengisi semua kolom kosong, melihat jam dinding sebelum menulis jam kedatangan. 08.35. Kemudian aku menyerahkan KTP-ku untuk ditukar dengan name tag “visitor”.

“Ruang wawancaranya di lantai tiga,” katanya.

Aku memasang name tag di saku kemeja sambil jalan. Tidak ada lift, padahal aku ingin sekali naik lift. Aku belum pernah naik lift. Tiba di lantai tiga aku pergi ke toilet untuk kencing, cuci muka, dan merapikan rambut. Resepsionis tidak mengatakan di ruangan mana tempat wawancaranya, tetapi aku menahan diri untuk tidak bertanya kepada staf yang berpapasan denganku. Aku menyusuri lorong yang sepi, melihat-lihat ruangan-ruangan kantor dengan para staf sibuk dengan komputer atau menelpon, bunyi printer dotmatrix, staf yang rapat di ruangan kecil, melewati ruangan berpintu kayu yang tertutup rapat di sebelah kanan, sampai menemukan satu pintu yang ditempeli selembar kertas bertuliskan: Ruang Tes dan Wawancara Kerja yang terletak di ujung. Aku pergi ke jendela, mengintip ke luar, melihat Ayah sedang mengobrol dengan pemilik warung. Kemudian aku berdiri sebentar di depan pintu ruang wawancara kerja, sayup-sayup terdengar suara-suara mengobrol. Aku mengetuk pintu dua kali dan membukanya. Ruangan sunyi sejenak, semua mata memandang ke arahku. Aku duduk di kursi paling depan, satu-satunya kursi yang kosong. Jam di dinding: 08.50.

Aku menyibukkan diri dengan menggambar gedung-gedung pencakar langit di buku tulis. Tepat pukul sembilan dua orang staf kantor masuk ke ruangan. Yang satu seorang wanita berjas dan rok abu-abu, berusia sekitar awal empat puluhan. Yang lain seorang laki-laki muda berkacamata, memakai kemeja putih, dasi merah dan celana panjang abu-abu yang membawa tote bag biru yang di letakkan di atas meja. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai manajer HRD dan laki-laki di sebelahnya sebagai stafnya. Dia memberikan penjelasan singkat tentang profil perusahaan dan jenjang karir. Kemudian staf HRD laki-laki melanjutkan, memberitahu bahwa tes tulis dan wawancara akan dilakukan dalam satu hari. Ada jeda sepuluh menit sehabis tes yang disebut cofee break. Kami disedikan kopi, teh, dan makanan kecil di atas meja di luar ruangan. Hanya yang lolos tes yang bisa lanjut ke wawancara kerja.

Ada empat tes tulis, masing-masing diberi waktu tiga puluh menit untuk diselesaikan. Aku membaca bismillah sebelum menjawab. Aku berkenalan dengan pelamar lain di waktu jeda dan pergi ke jendela untuk melihat Ayah—kadang-kadang kulihat Ayah sedang baca koran, kadang-kadang sedang mengobrol dengan pemilik warung. Aku bisa menjawab soal Pengetahuan Umum, Matematika Dasar dan Bahasa Inggris, tetapi lumayan kesulitan saat mengerjakan psikotes. Tes berakhir pukul 12.20.

Mereka tidak menyediakan makan siang. Aku salat zuhur di musola sempit di belakang gedung, berdoa, lalu pergi ke warung untuk menemui Ayah. Tetapi Ayah tidak ada di sana. Pemilik warung bilang ia sedang pergi ke masjid. Aku kembali ke dalam gedung dan mendapati pengumuman hasil tes tulis sudah ditempel di pintu ruangan. Aku satu di antara delapan belas peserta yang lolos tes tulis. Sambil menunggu wawancara, aku mengobrol dengan perempuan yang duduk di sebelah kananku. Namanya Fransiska. Kami berkenalan singkat waktu jeda pertama. Ini wawancara keduanya, katanya. Dia melamar untuk posisi staf akunting. Dia bekerja untuk membiayai kuliahnya. Dia mengubah jam kuliahnya jadi kelas malam supaya bisa bekerja. Ketika dia bertanya aku kuliah di mana, kujawab aku baru lulus SMA.

“Keren,” katanya.

Staf HRD laki-laki masuk dan memberikan pengumuman. Kami dikelompokkan sesuai dengan posisi yang kami lamar. Semuanya empat kelompok, yang berarti ada empat posisi lowong. Fransiska bersama empat pelamar lain pergi ke bagian akunting di lantai dua. Yang lain tetap di lantai tiga untuk posisi marketing, sementara aku dan dua kandidat lain ke bagian IT di lantai empat.

Aku tidak menganggap mereka sebagai pesaingku. Kami sudah lumayan akrab sejak berkenalan di jeda kedua. Mereka lulusan universitas ternama dan sama-sama baru lulus tahun ini. Seorang staf IT perempuan memakai switer hijau menyambut kami dan meminta kami untuk menunggu. Kami duduk di kursi staf, di seberang meja staf yang sibuk dengan komputernya. Aku melihat sekeliling. Tidak ada sekat di lantai ini, kecuali untuk beberapa ruangan untuk manajer dan ruang rapat. Stafnya tidak sebanyak di lantai tiga, terlihat santai dan tidak memedulikan penampilan. Banyak meja yang kosong. Monitor, CPU, dan printer ditumpuk di belakang.

Namaku dipanggil. Aku tentunya senang mendapat giliran pertama wawancara, yang berarti aku bisa pulang lebih cepat. Staf perempuan bersweter hijau itu membawaku ke sebuah ruangan di mana dua orang sudah menungguku di dalamnya.

Nasihat Ayah malam itu tidak semuanya kulaksanakan. Aku tidak mengetuk pintu, karena staf perempuan bersweter hijau itu yang membukakan untukku. Dia juga yang menutup pintu saat keluar. Aku tidak mengucap “Selamat Siang”, karena dua orang itu langsung menjabat tanganku dan memperkenalkan diri sebagai Manajer dan Supervisor IT.

Manajer IT yang terlihat lebih muda sebagian rambutnya sudah beruban, memakai kemeja lengan pendek yang agak kusut. Penampilan supervisor IT tidak lebih rapi, kacamatanya miring, wajahnya ditumbuhi sedikit kumis dan jenggot.

“Silahkan duduk,” kata supervisor IT.

Aku duduk tegak seperti nasehat Ayah.

“Santai saja. Ini bukan seleksi tentara.”

Manajer IT yang memegang berkasku, mencodongkan tubuhnya, dan berkata, “Kamu benar hanya lulusan SMA?”

Aku tidak merasa tersinggung dengan ucapannya, bahkan bisa dibilang aku cukup percaya diri melamar posisi ini. “Iya.”

“Perusahaan memang mensyaratkan sarjana, tapi saya tidak. Saya sudah baca CV kamu. Menarik. Sekarang waktunya buat kamu untuk membuktikannya.”

Ia menjelaskan secara singkat tugas seorang IT Support. Jika aku diterima, katanya, aku akan lebih banyak mengurus soal hardware, jaringan, printer, instalasi software, dan bagaimana menghadapi keluhan para staf senior yang belum terbiasa dengan komputer, termasuk para manajer dan direktur. Terutama manajer keuangan yang cerewet, katanya tertawa. Aku mendengar ia bicara dengan supervisor IT tentang kekacauan yang terjadi di bagian keuangan hanya karena kabel LAN yang copot. Lalu keduanya tertawa.

Mereka lebih banyak bertanya soal teknis ketimbang latar belakangku. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar LAN, router, kabel-kabel, printer, BIOS, dan lainnya dengan lancar. Kemudian kami berpindah ke ruangan lain. Di situ ada beberapa komputer dan printer. Perintahnya sangat sederhana. Mereka memintaku memasang kabel-kabel keyboard, CPU, monitor, mouse, dan kabel jaringan ke CPU. Setelah itu diuji sedikit tentang Excel, setting email di Outlook, instalasi printer, dan LAN.

“Bisa pasang pita printer?”

“Bisa.”

Pasang pita printer memang tidak diajarkan di BLK, tetapi aku beberapa kali mengerjakannya di sekolah. Aku bahkan pernah merapikan pita printer yang berantakan, membuat jari-jari tanganku menghitam.

“Pasang clamp?”

“Bisa.”

Keduanya percaya saja dan tidak mengujiku pasang pita printer atau memasang kabel clamp. Secara keseluruhan aku tidak terlalu kesulitan mengerjakan semuanya, kecuali mencemaskan Ayah yang sudah lama menungguku. Meski tidak bisa memastikan lolos atau tidak, keduanya kelihatan puas dengan hasil tesku. Kami berjabatan tangan. Ketika aku baru berbalik badan, supervisor IT berkata, “Kamu ke sini sendiri?”

“Saya diantar Ayah.”

“Yang di warung Mang Ipul?”

Pasti yang dimaksud warung di depan kantor itu. “Iya.”

Ia tersenyum. “Ok, terima kasih sudah datang. Tunggu kabar dari kami. Paling lama satu minggu.”

Tentunya aku berharap dalam waktu seminggu itu aku mendapatkan kabar baik. Kalau pun tidak diterima, aku menganggap wawancara kerja itu bukan sesuatu yang perlu dicemaskan seperti yang pernah kupikirkan sebelumnya. Aku menghampiri dua pelamar lain, menyalami mereka, mengucapkan “semoga sukses” dan “aku pulang duluan”, kemudian bergegas menuruni tangga, berlari keluar gedung, dan menghampiri Ayah.

“Bagaimana hasilnya?”

“Nanti dikabarin minggu depan.”

“Diterima atau tidak itu urusan belakangan. Yang penting kamu sudah berani mencoba.”

Hanya itu yang dikatakannya. Ayah bahkan tidak bertanya apa saja yang ditanyakan saat wawancara, bagaimana aku menjawabnya, atau yang lainnya. Mungkin ia paham aku baru saja melewati hari terpenting dalam hidupku dan aku butuh bersantai. Ayah mengobrol sebentar dengan Mang Ipul, pemilik warung itu. Ia menanyakan nomor bus ke Bekasi. Mang Ipul menyebut bus No. 52. Tapi jarang lewat, katanya. Cara lainnya bisa naik dari terminal Kampung Melayu, atau naik kereta dari stasiun Pasar Senen. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Mang Ipul, Ayah berkata, “Kita pulang naik kereta.”

Untuk makan siang yang terlambat, kami makan mie ayam. Ayah membayar sepuluh ribu rupiah untuk dua porsi. Di dalam bus menuju stasiun, aku menghitung uang yang sudah dikeluarkan Ayah sejak kami meninggalkan rumah sampai jumlah ongkos yang barusan dibayar. Jumlahnya yang lumayan banyak membuatku tertegun. Karena memikirkan itu dan hal lainnya, aku hampir tidak mendengar Ayah yang memberitahu nama-nama tempat yang kami lewati. Ketika terbangun, kami sudah berada di suatu tempat yang ramai dengan lapak-lapak buku di sepanjang jalan.

“Ini namanya Kwitang,” kata Ayah.

Stasiun Pasar Senen tidak jauh dari situ. Ayah membeli dua tiket—tiket karton persegi seharga empat ratus rupiah—yang diberikannya padaku. Kami melewati terowongan bawah tanah untuk sampai ke peron. Kios-kios makanan berjejer di antara bangku-bangku tunggu yang penuh. Kami duduk di pinggiran tembok bawah tiang. Ayah membuka koran dan membacanya. Entah ia sedang membaca ulang atau ada berita yang belum dibacanya. Aku melihat bagian belakang koran, di bagian olah raga, tetapi tidak membacanya. Aku sedang memandang sosok laki-laki empat puluh empat tahun di baliknya. Aku mengingat kembali perjalanan kami sejak meninggalkan rumah tadi pagi hingga berada di tempat ini. Aku menghitung ulang jumlah uang yang dihabiskan untuk mengantarku, yang membuatku berjanji pada diri sendiri akan mentraktir kedua orang tua dan adikku makan bakso, mie ayam, atau fried chicken setelah menerima gaji pertamaku. Aku tersenyum saat menyadari bahwa aku bahkan belum punya dompet untuk menyimpan uangku.

Kereta datang dan pergi, sampai akhirnya kedatangan kereta kami diumumkan. Orang-orang berdiri berjejer di sepanjang peron. Kereta masuk dari arah kiri kami, dari Stasiun Kota, terlambat sepuluh menit dari jadwal. Kami melompat masuk, orang-orang bergegas memilih tempat duduk. Ayah memanggilku, tangannya menepuk tempat kosong di sampingnya.

Suasana kereta lebih seperti pasar dengan rombongan pedagang, pengemis dan pengamen mondar-mandir dari satu gerbong ke gerbong lain. Kondektur membolongi tiket dengan alat mirip stapler. Angin berembus kencang dari jendela yang tidak tertutup penuh membuatku mengantuk. Aku menengok ke luar, memperhatikan jalan raya, barisan kendaraan yang memanjang saat kami lewat di depan mereka, dan stasiun-stasiun yang kami singgahi. Murid-murid SMP yang naik dari stasiun Jatinegara memilih berdiri di ambang pintu. Mereka bersorak mengejek barisan murid sekolah lain di pinggir jalan. Seorang bocah perempuan menyapu lantai dengan sapu bergagang pendek. Ketika dia selesai menyapu lantai di bawah kakiku, dia meminta-minta padaku. Aku mengangkat tangan dan bocah itu pun pergi. Lepas dari stasiun Buaran, orang-orang dikejutkan teriakan seorang wanita gemuk yang duduk di seberangku. “Jambret!” Aku sempat melihat seorang pria berjaket hitam menarik kalungnya. Kejadiannya sangat cepat. Tidak ada mengejarnya. Penjambret itu melompat turun ketika kereta mulai bergerak cepat. Ayah tidak terganggu dengan teriakan itu atau dengan kegaduhannya, atau dengan suara para pedagang yang tanpa lelah menawarkan dagangannya, atau dengan suara sumbang nyanyian pengamen. Ia tidur sangat pulas, dengan koran terselip di tangannya yang dilipat di atas perutnya yang buncit, wajahnya terlihat tenang, damai, dan lelah.✦