Hujan

“Kenapa tidak menyapaku, Mo?”

Untuk mengejar rapat pukul tujuh pagi, Mo sudah mempersiapkan bahan rapat hingga lewat tengah malam. Ia tidur menjelang pukul satu, bangun sebelum subuh, memeriksa tas selempangnya yang berisi laptop, gunting kuku dan payung, menyempatkan sarapan roti dan secangkir kopi, naik kereta pemberangkatan pukul 05.30 dan tiba di kantor empat puluh lima menit kemudian.

Ia lima teratas yang tiba paling pagi di kantor, seperti biasa—setelah petugas kebersihan yang datang sejak pukul 05.50, direktur teknik yang datang tidak lama setelahnya, dan staf departemen purchasing yang datang pukul 06.10. Di bawahnya ada manajer HRD.

Rapat yang seharusnya dimulai pukul tujuh diundur lima belas menit karena menunggu manajer keuangan yang terjebak macet di jalan tol. Mo, yang menjadi sorotan dalam rapat hari itu, menjelaskan bahwa pembaruan program di setiap departemen akan mengurangi penggunaan kertas dan kerja lembur. Para direktur menegakkan badan ketika Mo menyebut angka yang bisa dihemat per tahun. Di akhir presentasi, ia mengajukan daftar vendor yang akan mengerjakan proyek itu beserta anggarannya. Melihat anggaran yang lumayan besar, direktur keuangan bertanya, “Kenapa tidak ada vendor lokal?”

Mo, yang sudah menduga pertanyaan itu akan muncul, berkata, “Ada, Pak. Tapi harganya jauh lebih mahal.”

Rapat selesai pukul setengah sebelas, Mo masih tinggal untuk membereskan berkas-berkas dan menghabiskan jatah camilannya. Manajer keuangan, yang tampaknya lupa sesuatu, kembali ke ruang rapat. Dari celah pintu dia berkata, “Mo, nanti ke tempat saya, ya. Printer saya gak mau ngeprint.”

“Oke, Bu.”

Pada pukul sebelas, setelah memperbaiki printer manajer keuangan, Mo dan manajer purchasing bertemu vendor untuk pemasangan CCTV di kantor cabang. Makan siangnya digeser ke pukul 15.00 setelah direktur keuangan memanggilnya untuk berdiskusi tentang aplikasi pajak terbaru. Menjelang jam pulang kerja, ia masih disibukkan mengajari staf baru di departemen underwriting menginput data. Ia baru bisa benar-benar tenang bekerja di mejanya sendiri setelah pukul 18.00.

Ia berhenti mengetik saat mendengar suara gemuruh di langit. Ia melirik jam di sudut bawah kanan layar laptop; baru pukul 19.48 dan pekerjaannya masih banyak. Tidak ingin kehujanan di jalan, ia mematikan laptopnya. Ia memijat-mijat mata sebentar dan menguap panjang. Udin, petugas kebersihan, mematikan lampu lorong. Mo berpapasan dengannya saat melewati pantry.

“Kang Udin jadi balik ke Bogor?”

“Iya,” jawab Udin, mematikan lampu pantry. Tugasnya yang tersisa hanya membuang sampah. Ia senang tugasnya sedikit berkurang sejak manajer keuangan membuat pengumuman, bahwa setiap karyawan yang makan di pantry harus mencuci peralatan makannya sendiri. Pengumuman itu terpampang di pintu lemari cangkir.

Mo mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompet, menyodorkannya kepada Udin.

“Buat jajan anak-anak.”

Mo mendengar kabar itu dari Yuni, si office girl, bahwa istri Udin sudah tiga bulan kena stroke. Bagian kanan tubuhnya lumpuh. Meski begitu, perempuan itu masih bisa berjualan nasi uduk di rumah, dibantu anak gadis tertuanya yang baru lulus SD. Mo tidak pernah bilang uang pemberiannya untuk pengobatan istri Udin. Ia membuat alasan lain supaya Udin itu mau menerimanya. Bulan lalu Mo memberikannya seratus ribu untuk ongkos pulang kampung.

*

Dinding lobi belakang gedung itu bergaya klasik tradisional dengan ukiran kayu dan lukisan-lukisan pemandangan. Sebagian lampu sudah dimatikan, menyisakan penerangan di atas lantai marmer yang sedang dipoles. Angin bertiup kencang ketika Mo membuka pintu kaca. Bulu-bulu tangannya berdiri, ia menggosok telapak tangan untuk sedikit kehangatan.

Ia melewati jalan setapak taman yang diterangi lampu-lampu temaram. Orang-orang duduk di bangku atau di atas rumput taman sambil merokok atau mengobrol, atau keduanya. Sesekali terdengar ledakan tawa. Mo kadang-kadang datang ke taman, duduk di atas rumput membaca buku pada jam istirahat atau menjelang jam pulang kantor jika sedang lembur. Baginya, tempat itu terlihat lebih indah di siang hari, ketika papan larangan merokok terpampang jelas.

Deretan lapak makanan yang sudah tutup menempel di sepanjang pagar. Di sisi seberang, dua mini market yang bersebelahan masih buka sampai pukul 22.00. Mo menapaki jalan menanjak sepanjang seratus meter menuju jalan raya. Napasnya yang terengah-engah menjadi pengingat untuk joging Sabtu besok. Sudah lama ia tidak berolahraga berat. Terakhir satu setengah bulan lalu, saat bermain badminton selama dua jam penuh. Kini beratnya semakin bertambah, perutnya semakin maju.

Seorang perempuan hamil duduk di ujung kanan halte bus, Mo duduk di ujung yang lain. Mereka bekerja di gedung yang sama. Perempuan itu di lantai 22, Mo di lantai 18. Mo pernah beberapa kali satu lift dengannya, tapi perempuan itu tidak mengenalinya. Ia bertemu perempuan itu empat tahun lalu. Perempuan itu berdiri di samping lift, ikut mengantre, tetapi tak pernah benar-benar naik. Setiap kali pintu terbuka dan orang-orang masuk, ia hanya memandangi mereka. Begitu ada antrean baru lagi, ia melangkah mundur. Mo, yang sedang mengantre di lift sebelah, tidak jadi naik.

“Lantai berapa?” tanya Mo.

“Dua-dua, Mas,” jawabnya, logat Jawanya kental. Dia bertubuh mungil, memakai blazer hitam dan celana panjang hitam.

“Lift-nya di sebelah sana,” kata Mo menunjuk lift di seberang. “Tidak semua lift berhenti di tiap lantai. Yang ini cuma sampai lantai 20.”

Sementara perempuan itu menengok ke arah lift yang ditunjuknya, Mo memperhatikan wajahnya yang manis. Dua dua, Mas. Mo masih mengenali suaranya sampai sekarang.

Kini perempuan muda itu sudah menjadi seorang nyonya, sendirian menunggu seseorang menjemputnya. Beberapa kali dia mencoba menelepon, tetapi tidak ada jawaban. Wajahnya merengut. Mo merasa kasihan padanya.

Perempuan itu terus menengok ke arah kanannya sambil sesekali melihat ponsel, lalu berdiri ketika sebuah BMW hitam yang dikenalinya berhenti di depannya. Seorang laki-laki keluar dari mobil, menghampirinya dengan senyum. Namun perempuan itu menunjukkan wajah cemberut. Terdengar sayup-sayup percakapan yang tidak bisa ditangkap Mo. Kemudian laki-laki itu memeluk si perempuan, mengecup keningnya, lalu keduanya masuk ke mobil. Mo berpikir, ia tidak akan pernah berciuman di tempat umum.

Cahaya kilat dan gemuruh guntur membuatnya gelisah. Jika dalam lima menit ia tidak mendapatkan bus yang langsung ke Bekasi, pikirnya, maka ia akan naik yang jurusan Cawang. Perjalanannya memang akan lebih lama karena tidak lewat jalan tol, tetapi setidaknya ia tidak perlu turun di tol Jati Bening. Ia benci menunggu bus di tempat itu di musim hujan.

Tidak sampai lima menit, busnya datang. Ia duduk di sisi kiri, tempat favoritnya.

Jalanan masih ramai oleh orang-orang yang menunggu bus, para pedagang kaki lima, pengamen, serta kemacetan dengan klakson yang bersahut-sahutan. Gedung-gedung perkantoran masih terang, menampakkan siluet orang-orang yang sedang bekerja. Seseorang—entah di lantai berapa—yang sedang menatap keluar mengingatkannya pada dirinya sendiri, pada malam-malam ketika ia lembur dan berdiri di balik jendela, memandangi jalanan di bawah sambil memikirkan hal-hal yang sama seperti yang dipikirkannya saat ini.

Selama enam tahun ia melewati rute yang sama setiap harinya, diselingi naik kereta jika berhasil pulang tepat waktu, sesuatu yang amat jarang terjadi. Jalan yang sama, halte yang sama, pekerjaan yang sama, gaji yang nyaris tak berubah. Kadang-kadang ia merasa aneh menemukan dirinya masih seperti di awal-awal bekerja: bangun sebelum subuh dan sudah meninggalkan rumah sebelum matahari terbit. Ia ingin keluar dari siklus itu, tapi selalu aja ada alasan ia merasa harus berada di dalamnya. Mungkin ia sudah terlalu nyaman. Mungkin terlalu takut untuk keluar.

Lalu, hujan turun deras.

Tetesan air hujan merembes masuk melalui celah sempit jendela, memercik ke wajah, membangunkannya dari lamunan. Ia menarik jendela kaca yang kesat itu, tetapi tidak bisa menutup penuh—ada sesuatu yang mengganjalnya. Ia pindah ke kursi kosong di seberang, di samping laki-laki gemuk yang sedang tertidur lelap. Ia sangat lelah dan mengantuk, tetapi tidak ingin sampai jatuh tertidur. Atau, ia akan melewatkan tempat pemberhentiannya.

*

Ia satu-satunya penumpang yang turun di pintu tol Jati Bening. Ia mengeluarkan payung kuning dari tas dan membukanya saat turun. Tidak ada halte bus. Sebuah pos kayu dipadati orang-orang yang berteduh. Di atas pembatas jalan, seorang laki-laki tua dengan topi merah dan jas hujan murahan berdiri sendirian menanti bus.

“Pulang ke mana, Pak?” tanya Mo, memayunginya.

“Purwakarta.”

Usia laki-laki itu akhir lima puluhan. Celana panjangnya digulung hingga selutut, menampakkan kakinya yang kurus. Ia memicingkan mata setiap kali bus mendekat—cahaya silau lampu bus membuatnya kesulitan membaca tulisan di kaca bus. Kalau bukan karena teriakan kernet, ia tidak akan tahu tujuan bus itu.

“Ini bus ke Purwakarta,” kata Mo setelah tiga bus berlalu. Ia melambaikan tangannya hingga bus itu berhenti, lalu memayungi laki-laki tua itu naik ke bus.

Mo kembali menunggu busnya, sendirian. Sebuah bus yang melintas di depannya—bukan bus yang ditunggunya—berhenti agak jauh darinya, menurunkan seorang perempuan. Perempuan itu melepas sepatunya, menentengnya, lalu berlari menghampirinya.

“Numpang, ya?”

Perempuan itu lumayan tinggi. Dia mengenakan kaos putih yang dimasukkan ke celana jins dan menyandang tas bahu. Mo mengenalinya, tetapi ia sengaja tidak menyapanya. Ia bergeser, memberinya ruang untuk berteduh. Perempuan itu meletakkan sepatunya, lalu memakainya—kausnya yang basah menempel di punggung, memperlihatkan tali beha. Dia bangkit dan mengucapkan terima kasih, membetulkan ikat rambut, lalu, dengan mata yang agak disipitkan, dia menatap Mo.

“Marmo?”

“Nina?”

Mereka saling menanyakan kabar dan pekerjaan—Nina bekerja sebagai marketing di sebuah agensi periklanan di kawasan Kuningan. Mo bekerja di sebuah perusahaan asuransi umum di Sudirman. Ketika Mo ingin menanyakan tempat tinggalnya yang sekarang, Nina berkata,

“Itu busku.”

Mereka pulang ke arah yang sama, di bus yang sama mereka duduk bersebelahan. Mo ingin mengobrol lebih banyak, tetapi Nina sibuk dengan dirinya sendiri: mengeringkan rambut, mengelap wajah, leher, serta tangannya dengan handuk putih kecil, lalu menelepon seseorang. Ketika kesempatan itu tidak juga datang, Mo menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata, dan tertidur sebentar sebelum tetesan air membangunkannya. Bagaimana mungkin dapat dua bus bocor dalam satu kali perjalanan? Ia menggeser duduknya, merapat ke Nina.

*

Mereka turun sebelum pertigaan lampu merah Metropolitan Mall. Mo memegang tangan Nina saat menuruni tangga bus, lalu memayunginya. Angin membawa air dan udara dingin. Mereka berjalan merapat, menyusuri jalur pejalan kaki yang sempit, bergelombang, dengan genangan air di sana-sini.

“Aku mungkin akan berhenti kerja tahun depan,” kata Mo.

“Bisnis?”

“Nulis. Aku akan jadi penulis.”

“Oh ya? Nulis apa? Novel?”

“Nulis program. Yah, sekalian belajar bahasa Jawa.”

“Program apa? Apa hubungannya dengan bahasa Jawa?”

Mo tertawa, menyadari bahwa tidak semua orang memahami IT.

“Bahasa Inggrisnya Jawa itu Java. Di komputer Java itu nama bahasa program. Kau pasti pernah dengar.”

“Iya. Baru saja.”

Mereka kemudian saling bercerita tentang teman-teman dan guru-guru, reuni sekolah yang mereka lewatkan dan hal-hal sepele yang membuat mereka tertawa. Lalu setelah itu sunyi. Sebuah truk baru saja mencipratkan air dan lumpur ke arah mereka.

Nina baik-baik saja. Mo tidak.

“Biar kubersihkan wajahmu,” kata Nina, mengeluarkan handuk putih kecil dari tas. Saat dia hendak menyeka wajah Mo, Mo menahan tangannya. Untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan.

“Cuma karyawan,” kata Mo, memecah kebekuan.

Dan mereka tertawa.

Nina senang kehadiran Mo menjadi hiburan baginya di tengah kenyataan bahwa ia baru saja melewati rapat yang melelahkan di kantornya, hujan yang turun amat deras, dan adiknya yang meminjam mobilnya sehingga ia terpaksa naik bus tanpa membawa payung—dia menyimpan payung kesayangannya di dalam mobil. Untungnya dia bertemu seseorang yang mau berbagi payung dengannya. Seorang laki-laki yang lumayan tampan. Namun, siapa sangka wajah laki-laki itu begitu familier. Lalu, seperti popcorn, nama Marmo meletus begitu saja di kepala. Anak laki-laki pemalu itu.

Di dalam bus, dia berharap Mo membuka obrolan, tetapi Mo malah tidur. Ya ampun, sikap laki-laki itu membuatnya geregetan. Kalau begitu, pikirnya, dia juga bisa bersikap sama. Dia ikut memejamkan mata, meski sama sekali tidak ingin tidur. Dia masih kesal karena Mo mengabaikannya. Apa alasan Mo tidak mau mengobrol dengannya? Bukankah mereka teman lama? Dia terus memikirkan itu hingga Mo merapat dan lengan mereka saling bersentuhan. Dia membuka mata, melirik Mo yang masih tertidur, lalu diam-diam meletakkan tangannya di atas tangan Mo, dan terkejut saat Mo menggenggam tangannya. Masih tidak ada obrolan setelah itu, hanya kehangatan di antara mereka.

Mereka berhenti di halte bus yang sepi, kemudian duduk. Nina menarik tangan Mo dan menaruhnya di atas pangkuannya, dan Mo mengelus punggung tangannya dengan ibu jarinya.

“Asal kautahu,” kata Mo, “aku dulu sering memperhatikanmu di sekolah.”

“Kenapa tidak menyapaku, Mo?”

“Kau terlalu … sulit diraih.”

“Sulit diraih?” Nina menyukai ungkapan itu. Seperti bintang di langit. Seperti seorang selebritas.

“Kau cantik, pintar, disukai banyak orang. Tahu sendirilah kau waktu itu.”

Nina tersenyum. Dia memang tidak menyangkalnya.

“Sebelum acara perpisahan di Taman Safari itu,” lanjut Mo, “apa yang kautahu tentang aku?”

“Sejujurnya?”

“Sejujurnya.”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Aku hanya tahu nama dan kelasmu. Aneh ya, tiga tahun kita satu sekolah, tapi baru resmi berkenalan di hari perpisahan. Itu pun karena kau ditarik teman-temanmu untuk menemuiku. Kau pemalu, Mo. Makanya aku yang mengajakmu salaman duluan. Ingat?”

Mo mengangguk. “Iya, aku ingat.”

“Tapi sekarang kau berubah. Bukan Marmo yang pemalu. Kau lucu.”

“Kupikir aku dari dulu memang begitu. Kau kan baru benar-benar mengenalku satu hari. Itu pun tidak sampai satu jam.”

“Kalau begitu kita harus sering bersama.”

Mo tersenyum. Semoga saja, pikirnya.

Mereka cukup lama berada di sana sampai adik laki-laki Nina tiba dengan Honda Jazz silver. Cukup bagi mereka untuk saling bercerita tentang kehidupan setelah lulus SMP, teman-teman yang masih berhubungan, kabar para guru, bertukar nomor ponsel, berciuman, dan sedikit membicarakan rencana masing-masing—Mo yang berencana mencari pekerjaan baru, Nina yang ingin memiliki butik sendiri.

“Kita bisa ketemu lagi kan, Mo?”

“Tentu.”

“Sampai jumpa, Mo.”

Mo masih duduk di situ untuk beberapa lama. Hujan sudah mereda, tetapi ingatannya tentang Nina belum. Wajah perempuan itu, rambutnya, hidungnya, bibirnya, dan ciuman yang membuatnya merasa bersalah. Ia melipat payungnya, membungkusnya dengan kantong plastik, memasukkannya ke tas. Ia menyeberangi jalan raya yang lengang, menunggu angkot di depan pom bensin selama lima belas menit, duduk di samping sopir yang terlihat sudah berumur. Di bangku belakang, tiga penumpang waria mengobrol dan tertawa cekikikan. Kilat dan gemuruh guntur mengiringi perjalanannya, lalu hujan turun pelan-pelan.

Mo turun di pertigaan jalan, berjalan sebentar sebelum berbelok masuk gerbang komplek perumahannya, melewati pos satpam, masjid yang gelap, menyusuri tepi jalan dengan pohon-pohon rindang yang berjejer dan suara gemiricik air di selokan.

Hujan tiba-tiba bertambah deras. Ia berteduh di teras warung soto yang sudah tutup. Rumahnya tidak jauh lagi, bahkan bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Ia memandang rumah itu dengan bangga—rumah yang baru dilunasinya tiga bulan lalu setelah lima tahun dicicil dengan susah payah. Ia tersenyum, puas dengan renovasi yang dilakukannya sendiri: mengecat dinding dengan warna krem, menyulap sebagian ruang tamu menjadi ruang kerja, memperbarui dapur, mengganti pagar. Pencapaian sederhana itulah yang membuatnya tak pernah iri pada teman-temannya yang dianggap lebih sukses.

Setelah sepuluh menit hujan tidak juga mereda, ia meneruskan perjalanannya, berlari tanpa henti sejauh tiga puluh lima meter hingga tiba di rumahnya. Ia membuka pintu pagar dan menutupnya, menaruh tasnya di kursi teras, melepas sepatu, menaruhnya di rak. Cahaya lampu ruang tamu menyelinap keluar ketika pintu rumah terbuka. Istrinya, yang sedang mengandung anak pertama mereka, berdiri di ambang pintu.

“Kau kehujanan,” kata istri Mo. “Aku akan ambilkan handuk untukmu.” (AR)