Bakso
“Enak, Kak.”

Adik perempuanku, yang berulang tahun ke-10, mengajakku makan bakso di warung bakso di seberang SMA, tidak jauh dari rumah. Waktu kutanyakan dari mana uangnya, dia bilang diambil dari tabungannya. Waktu kubilang uangnya disimpan saja, dia memaksaku menerima ajakan traktirannya.
“Nanti kita belikan juga satu bungkus buat Ibu,” katanya.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali makan bakso. Mungkin setahun atau dua tahun lalu. Sudah terlalu lama. Tapi tidak pernah di tempat itu.
Warung bakso itu selalu ramai menjelang siang. Asap kuah yang mengepul beserta aromanya sudah tercium dari pinggir jalan. Setiap kali melewatinya, aku berjanji akan mentraktir ibu dan adikku dengan gaji pertamaku nanti. Tapi, sayangnya aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, dan adikku malah yang mentraktirku.
Saat kami tiba, tempat itu masih sepi. Seorang pelayan laki-laki sedang mengelap meja, dua lainnya sibuk di belakang gerobak. Mengira warung itu belum buka, kami sempat ragu untuk masuk. Namun, akhirnya kami masuk juga.
Kami duduk di bangku kayu panjang. Di atas meja berbaris rapi botol kecap manis, saus, dan lada, mangkuk-mangkuk kecil plastik hijau berisi sambal dan garam, tempat sendok dan garpu, dan lembaran menu yang dilaminasi. Kipas angin di dinding berputar kencang.
Aku mengambil lembaran menu. Di situ ada belasan menu bakso dan minuman yang diurutkan dari harga paling mahal ke paling murah. Mataku terpaku ke bagian bawah, pada menu bakso biasa seharga lima belas ribu dan es teh manis seharga dua ribu lima ratus. Melihatku hanya menatap lembaran menu, adikku berkata,
“Pilih yang mana saja. Tenang saja, adek yang bayar.” Dia menepuk tas dompet yang tidak lepas dari bahunya.
Aku menunjuk menu yang harganya sedikit di atas yang paling murah.
“Kakak pesan yang ini.”
“Minumnya apa?”
“Es teh manis, Bos.”
Dia tertawa saat kupanggil bos.
“Tunggu sebentar.” Dia melompat dari bangku, lalu memesan bakso untuk kami.
Tidak berapa lama, pelayan membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas besar es teh manis. Tapi, menu yang datang tidak seperti yang kupesan. Ini terlihat sangat … mahal.
“Ayo makan, Kak.”
Dia mengambil sendok dan garpu, menuang lumayan banyak saus dan sambal, lalu menambah sedikit kecap manis dan garam. Dalam urusan pedas, kami memang agak mirip. Bedanya, aku menuang lebih banyak saus dan sambal.
Aku menyesap sesendok kuahnya yang masih panas—kaldu dari tetelan dan gajih membuatnya sangat gurih. Sambalnya lebih pedas dari yang kukira.
Kami makan nyaris tanpa bicara. Adikku sangat menikmati baksonya. Sebentar saja mangkuknya hampir kosong. Baksonya tinggal satu yang besar, kuahnya yang kemerahan tinggal sedikit. Dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan lengan baju. Sesekali terdengar suara dia menarik ingus.
Dia akhirnya menghabiskan bakso terakhirnya, menyesap kuahnya langsung dari mangkuknya sampai habis, sedikit bersendawa, lalu memandangku, dan berkata,
“Enak, Kak.” (AR)
