Mengintip Amanda

Seperti menapaki anak tangga, aku mengenalnya setahap demi setahap, dan … lumayan lama.

Bayu, teman SMP-ku, pergi tanpa pamit. Pada hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas lima, ia tidak ada di kelas. Aku mengira ia masih pergi liburan, tetapi ketika pergi ke rumahnya, aku menemukan spanduk kuning di pagar bertuliskan “Rumah Dikontrakkan”. Ibuku bilang mereka sudah pindah ke Surabaya.

Setelah bertahun-tahun dikontrakkan dan beberapa kali ganti penyewa, rumah itu dijual. Pembelinya Pak Maman, ayah Amanda. Itu lima tahun lalu. Pak Maman tidak langsung menempati. Rumahnya dikontrakkan selama dua tahun, kosong selama beberapa bulan, dan baru ditempatinya bersama dua anak laki-lakinya setelah pensiun dari Departemen Kesehatan. Tidak sampai setahun, putra pertamanya pindah ke Bandung karena pekerjaan. Setelah itu Pak Maman tinggal berdua bersama putra keduanya, hingga Amanda, anak bungsunya, tinggal bersama mereka.

Pak Maman biasa nongkrong di samping pintu gerbang masjid bersama tukang parkir dan tiga jemaah lain sambil merokok. Kalau tidak merokok, ia nongkrong di beranda masjid bersama jemaah lain yang tidak merokok, biasanya setelah salat asar atau magrib, mengobrol tentang politik atau orang lain. Usianya sekitar pertengahan puluhan, bertubuh gemuk dan berwajah lebar. Keluwesannya bergaul membuatnya seperti sudah puluhan tahun tinggal di lingkungan kami. Ia lebih tahu soal apa yang terjadi di lingkungan kami ketimbang kebanyakan orang lama. Misalnya, siapa sangka, yang mengerjakan proyek pemasangan pagar masjid enam bulan lalu, yang anggarannya tidak masuk akal itu, adalah Bendahara Masjid.

“Lihat saja siapa yang dapat proyek pasang marmer lantai masjid nanti,” katanya dengan suara serak berlogat Sunda.

Pertama kali kami berkenalan dengan putra kedua Pak Maman pada suatu sore di beranda samping masjid. Ia datang saat kami sedang mengobrol, menyalami satu per satu sambil memperkenalkan diri sebagai warga baru. Namanya Rulie. Badannya yang gemuk membuat kami menggeser cukup lebar untuk memberinya tempat. Obrolan pun mengalir; kami bergantian saling bertanya untuk saling mengenal. Dari percakapan itu, kami tahu bahwa ia putra kedua Pak Maman, sebelumnya tinggal di Tangerang, dan kini bekerja sebagai humas di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi Timur, sambil menyelesaikan skripsinya. Hingga akhirnya, Teguh—salah satu dari kami—mengajukan sebuah pertanyaan yang kemudian ia sesali.

“Ibu kamu di mana?”

“Meninggal. Kena kanker otak.”

Jawabannya yang lugas mengejutkan kami. Tidak ada yang berani bicara setelah itu, kami berada dalam keheningan yang canggung. Melihat kami diam saja, Rulie mencoba memperbaiki suasana dengan berkata, “Santai saja,” katanya, tertawa kecil. “Itu sudah lama kok. Waktu aku kelas dua SMP.” Tetapi keadaan tidak berubah. Satu per satu dari kami meninggalkannya dengan berbagai alasan.

“Aku pergi dulu,” kata Teguh.  “Ada urusan di rumah.”

Disusul Arif. “Aku harus cuci sepatu.”

Kemudian Dimas. “Aku juga ada urusan penting.”

Dan aku yang terakhir. “Aku belum makan seharian.”

Keesokannya, setelah salat asar, Rulie mendatangi kami lagi di tempat yang sama. “Ada yang mau bakso?”

Tapi mengenal Amanda tidak semudah mengenal ayah atau kakaknya. Seperti menapaki anak tangga, aku mengenalnya setahap demi setahap, dan … lumayan lama. Di anak tangga pertama, aku melihatnya sebagai orang asing yang berjalan melewati rumahku. Dia bisa siapa saja—anak kos yang bekerja di pabrik, SPG di mal, perawat di rumah sakit, atau sekadar lewat. Aku sama sekali tidak terpikir dia warga di sini.

Sekitar lima menit setelah itu, dia lewat lagi. Di tangannya ada bungkusan plastik hitam, mungkin dia baru saja dari warung—entah membeli gula atau tepung terigu. Hanya, kali ini aku memperhatikannya betul, mengingat-ingat wajahnya yang mungil, memandanginya sampai dia berbelok di pertigaan gang.

Aku menunggunya di jam yang sama besoknya, berdiri di pintu pagar sambil sesekali menengok ke arah pertigaan gang. Tetapi hari itu aku tidak melihatnya. Aku juga tidak melihat dia lusanya atau setelah hari itu. Aku berpikir mungkin dia melewati rumahku, hanya saja aku saat itu sedang berada di dalam rumah. Lama setelah itu, ketika aku sudah melupakannya, aku melihatnya keluar dari pertigaan gang. Langkahnya melambat seperti dalam gerakan slow motion, rambutnya mengembang ditiup angin, rok hitamnya yang panjang berkibar. Dia tidak muncul lagi besoknya, dan baru muncul tiga hari kemudian. Meski tidak bisa ditebak kemunculannya, aku selalu menunggunya setiap pagi, di jam dia biasa lewat—antara pukul tujuh sampai pukul sepuluh. Lewat dari jam itu, anggap saja dia tidak muncul.

Aku tidak menganggap menunggunya muncul sebagai sebuah rutinitas baru, melainkan sebuah kegiatan sambilan, sementara aku melakukan rutinitas pagiku seperti mencukur kumis dan jenggot, menyiram tanaman, membuang sampah, menyapu halaman rumah, atau kadang-kadang menjemur pakaian, sehingga bisa melihat dirinya merupakan sebuah kebetulan—jika tidak disebut sebuah keberuntungan.

Kebetulan juga yang membawaku naik ke anak tangga berikutnya: mendapatkan namanya. Pada suatu pagi ketika aku sedang mencukur kumis dan jenggotku, aku mendengar ibuku, yang sedang duduk di bangku tembok pagar menunggu tukang sayur, menyapanya.

“Ke mana, Manda?”

Manda untuk Amanda, tentu saja. Itu nama yang indah. Aku berhenti bercukur dan mengintip Amanda melalui celah tirai bambu.

“Ke warung,” jawabnya. “Mari, Bu.”

Mataku mengikutinya sampai dia berbelok ke luar gang, berpikir, bagaimana ibuku bisa mengenalnya?

Jelas itu pertanyaan bodoh. Ibuku punya pergaulan yang luas, sementara aku lebih sering berada di rumah. Anda mungkin bertanya-tanya mengapa aku tidak bertanya langsung kepada ibuku tentang Amanda. Misalnya: “Bagaimana bisa kenal Amanda?” atau “Di mana rumah Amanda?” Jika Anda seorang pengangguran sepertiku, aku yakin Anda tidak akan menanyakan itu. Dan kalaupun aku (keceplosan) menanyakan itu, ibuku pasti akan berkata, “Kamu kerja aja dulu. Nggak usah mikirin perempuan.” Lalu, ayahku yang sedang baca koran menggeleng-geleng kepala, adik perempuanku yang berumur sepuluh tahun akan menertawakanku.

Kedua orang tuaku memang sangat mencemaskan masa depanku. Di usiaku yang mendekati dua puluh tujuh, mereka berpikir aku sudah terlalu lama menganggur—meski tidak selama itu menurut hitunganku. Ayahku bahkan pernah menyangka aku sedang putus asa saat menemukanku termenung di kursi teras, padahal saat itu aku sedang memikirkan membangun bisnisku sendiri. Ia menepuk pundakku, dan berkata, “Kamu yang sabar. Nanti juga dapat kerja lagi.”

Sementara ibuku punya cara sendiri untuk bersimpati kepadaku dengan memintaku untuk tidak memberinya uang bulanan lagi. Bukan bermaksud menyombongkan diri, selama ini aku yang membiayai hampir semua kebutuhan rumah. Aku yang membeli beras, minyak goreng, membayar tagihan listrik, air, internet, bayar uang SPP adikku, dan yang lain. Seharusnya aku senang mendengar kata-kata bijak Ibu. Uang pensiun Ayah dan upah Ibu dari mengajar mengaji anak-anak yang hampir tidak tersentuh bisa dipakai untuk untuk kebutuhan rumah—uang tabunganku bisa untuk kupakai untuk keperluanku sendiri. Namun, setelah kupikir lagi, jika aku tidak memberikan kontribusi finansial, maka aku akan menjadi beban di rumah. Aku kenal beberapa tetanggaku yang menjadi beban di rumah karena terlalu lama menanggur, bahkan ada di antara mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak. Mereka sering jadi bahan gunjingan orang-orang. Aku tentu saja tidak ingin menjadi seperti mereka. Karena itu, sebagai jalan tengah, aku masih tetap membayar tagihan listrik, air, internet, dan uang SPP adikku.

*

Kalau Anda tinggal di lingkungan yang akrab seperti di tempatku, mengetahui rumah pendatang baru hanya soal waktu. Begitulah caraku tahu rumah Amanda. Aku tidak perlu mengikutinya atau bertanya pada ibuku. Di hari pertama kali aku bertemu Amanda, pada Sabtu siang yang mendung itu, Rulie memintaku datang ke rumahnya untuk memperbaiki laptopnya. Penting, katanya. Data-data di laptopnya harus diselamatkan. Aku datang ke rumahnya dengan harapan tidak ada kerusakan besar sehingga aku bisa pulang sebelum hujan turun.

Rulie mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, meletakkannya di atas meja tamu, dan menyalakannya. “Tuh, lihat kan, nggak bisa masuk ke Windows,” kata Rulie. Aku menyalakan ulang laptopnya, kemudian masuk bios, utak-utik sedikit, dan berhasil. Rulie memberiku seratus ribu untuk pekerjaan yang tidak sampai lima menit.

Tapi hujan sudah terlanjur turun deras. Angin bertiup kencang, menggoyang gorden, menerbangkan koran dan kertas-kertas di atas meja. Aku membantu Rulie, membereskan koran dan kertas-kertas yang berserakan di lantai, menaruhnya di bawah meja, kemudian Rulie menutup pintu dan jendela, dan menyalakan lampu.

“Lagi nggak ada kerjaan di rumah, kan?”

“Nggak ada. Santai aja.”

Sementara Rulie sibuk dengan laptopnya, aku melihat sekeliling, ke setiap sudutnya, mengingat-ingat saat rumah ini masih tinggali Bayu dan ibunya.

Dulu rumah ini salah satu rumah yang kusebut rumah orang kaya di lingkungan kami. Perabotannya dari kayu jati, tiap kamar dipasang AC, gordennya tebal, dinding-dindingnya dihiasi lukisan, rak buku di ruang tamu dan ruang tengah, dan rak berisi foto-foto berpigura dan suvenir luar negeri. Mereka punya TV layar besar dengan pemutar DVD dan karpet empuk di ruang tengah. Lemari es besar di dapur berisi berbagai makanan dan es krim yang boleh aku ambil tanpa minta izin. Bayu bahkan punya TV sendiri di kamarnya, yang sering kami gunakan untuk bermain Play Station. Meja belajarnya bagus, peralatan tulisnya lengkap, buku-bukunya tersusun rapi. Ia punya lemari khusus untuk mainannya dan koleksi komiknya. Aku duduk satu meja dengannya di sekolah dan bisa dibilang satu-satunya teman dekatnya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah daripada bermain di luar. Ayahnya seorang engineer kapal yang tidak pernah berada di rumah. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi dari fotonya, ia seorang yang gagah. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu dengan membaca majalah, nonton TV, dan menelpon. Dia menolak dipanggil “ibu” dan meminta aku memanggilnya “tante”—Tante Nia. Tante Nia jago masak dan sering membuatkan kami kue, dan sesekali mengajak kami makan di restoran naik mobilnya. Aku menyukai wajahnya yang cantik seperti model di majalah. Rambutnya pendek, kulitnya bersih, tubuhnya langsing dan wangi, kuku-kuku tangan dan kakinya dicat, dan dia punya tato lebah di perutnya. Dia suka memakai daster polos keemasan tanpa BH, atau setelan tank top dan celana boxer kuning. Kadang-kadang dia bergabung bersama kami untuk bermain Monopoli, tertawa keras setiap kali beruntung dan menciumiku hingga meninggalkan bekas lipstick di seluruh wajahku. Saat itu aku menganggapnya hal biasa yang dilakukan orang dewasa untuk menunjukkan kasih sayang atau rasa gemasnya, bahkan ketika dia beberapa kali memberiku hadiah atau uang jajan meskipun aku tidak berulang tahun. Mungkin kedekatan itu yang membuat Bayu tidak berpamitan padaku. Mungkin hal lain.

Hujan masih turun deras dan Rulie masih sibuk dengan laptopnya. Aku biasa tidur siang di jam-jam ini, yang bisa lebih nyenyak ketika hujan turun. Aku menyenderkan badan di sofa, meletakkan kepalaku di atas bantal sofa, dan memejamkan mataku. Tapi aku tidak bisa tidur karena cahaya lampu lampu. Aku menengok ke luar dan melihat sesosok tanpa payung yang sedang kesulitan menarik slot pintu pagar. Perlu waktu beberapa lama hingga dia berhasil membukanya. Dia membuka pintu, mengeringkan kakinya di keset, pakaiannya basah kuyup, matanya yang memandang ke arahku membuatku bertanya-tanya, apakah dia tahu bahwa selama ini aku sering memperhatikannya? Kemudian dia melangkah masuk, meninggalkan jejak air di lantai.

“Bapak sudah makan?” tanyanya kepada Rulie.

“Sudah. Tadi dimasakin telur.”

Air berjatuhan dari rambutnya, betisnya putih pucat. Dia mengibas-ibaskan rambutnya dengan tangan, menampakkan ketiaknya yang mulus.

“Oh ya, ini teman kakak,” kata Rulie, memperkenalkan perempuan itu kepadaku dan memperkenalkanku kepadanya. “Ini adikku. Namanya Amanda.”

Aku dan Amanda bersalaman, telapak tangannya basah, dingin dan lembut.

“Aku permisi dulu, Kak,” katanya, tersenyum.

Tidak lama setelah dia pergi, Rulie mengatakan bahwa adiknya sudah hampir dua tahun lulus SMA. Ia dan ayahnya memintanya untuk lanjut kuliah, tapi Amanda bersikeras ingin bekerja. Ia memintaku memberi kabar kalau ada info lowongan kerja yang cocok untuknya. Amanda bisa komputer komputer, katanya. Bisa Excel, Word, Power Point, MYOB. Pernah bekerja jadi SPG dan kasir di mini market. Aku sempat terpikir memintanya untuk mengirimkan CV Amanda, dengan begitu aku bisa tahu nomor ponselnya.

“Tentu,” kataku.

Perkenalan singkat itu membuatku lebih berani untuk menampakkan diri di hadapannya. Aku berpura-pura sedang membuang sampah atau menyiram tanaman, atau alasan lain yang masuk akal, dan menyapanya saat kami berpapasan. Aku biasa berkata, “Hai, Manda!” atau “Mau ke mana, Manda?” Atau kadang-kadang cukup dengan senyuman. Aku menikmati tiap kali berpapasan dengannya, seakan-akan aku baru pertama kali melihatnya. Dia ramah, wajahnya memancarkan aura keceriaan. Aku pernah memimpikan dirinya, dan itu sangat indah.

Aku bisa saja mengajak Amanda makan di luar atau nonton bioskop, tetapi itu berarti aku akan mengeluarkan banyak uang. Akan ada waktunya untuk itu. Untuk sementara, aku hanya bisa menunggu dan bersabar. Ketika kudengar Amanda berpacaran dengan Bowo, aku tidak menyalahkan diriku. Aku tetap menyapanya seperti biasa—bahkan saat dia lewat di depan rumahku sambil menggandeng tangan Bowo.

Aku dan Bowo sudah saling kenal lama, tapi belakangan ini kami tidak begitu akrab. Kami memang punya lingkaran masing-masing; ia bersama teman-temannya di Karang Taruna, aku bersama teman-teman aku di masjid. Lingkaran hanya preferensi atau kecenderungan, seperti jurusan di kampus. Kami berteman baik dan sering bekerja sama dalam kegiatan di lingkungan kami. Bowo hanya pengecualian. Sejak bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas Tata Kota, ia terlihat angkuh. Tadinya aku pikir hanya aku merasa begitu, ternyata Pak Maman juga berpikiran sama. Ketika kami mengobrol usai salat asar di tangga masjid, Pak Maman seperti sedang membangga-banggakan Bowo, mengatakan bahwa anak itu sebentar lagi akan diangkat menjadi pegawai tetap Dinas Tata Kota. Kemudian ia diam sebentar, lalu melanjutkan, “Nggak heran. Ayahnya kan kepala bagian di sana.” Dan kami tertawa.

Aku senang waktu mendengar kabar mereka putus. Aku tidak perlu tahu alasannya. Tidak penting. Maksudku, semua orang juga sudah tahu bahwa Bowo seorang play boy.

Lalu Amanda kembali jarang terlihat. Tapi itu tidak lama. Bahkan kemunculannya kembali menjadi lebih sering, lebih rutin, dan … terjadwal. Dia melewati rumahku pada pagi hari antara pukul 07.30 dan 07.40, dan sore harinya sekitar pukul 17.30 dengan mengenakan setelan kerjanya; celana panjang dan blazer biru tua. Dilihat dari jam berangkat yang agak siang dan pulangnya yang tidak terlalu sore, sepertinya tempat kerjanya tidak jauh, bahkan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Di sekitar jam-jam itu, aku sudah bersiap untuk membuang sampah, menyiram tanaman di pot, atau sekadar berdiri di pintu pagar. Tidak harus setiap hari, supaya dia tidak curiga, yang penting setiap kali berpapasan dengannya, aku harus memberikannya kesan positif. Misalnya, aku menyapanya sambil memegang buku, supaya dia mengira aku suka membaca.

Barangkali, apa yang aku lakukan berikutnya dianggap tidak pantas, tapi ini sekadar ingin tahu tempat kerjanya, sehingga tidak tepat jika disebut menguntit. Ide ini muncul begitu saja di suatu pagi ketika dia baru saja melewati rumahku. Aku tidak memakai topi atau jaket supaya tidak ketahuan, kecuali tetap berada di jarak aman. Aku mengikutinya sampai dia berbelok masuk ke kantor. Aku tidak pernah melakukannya lagi, hanya sesekali berada di sekitaran kantornya untuk sekadar melihatnya.

*

Aku pernah bekerja, sebagai Business Analyst di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta. Berkendara dengan sepeda motor sejauh jarak 30 kilometer ke kantor dan 30 kilometer lagi pulangnya, menghirup polusi, pulang larut malam yang sepertinya membuat paru-paru aku bermasalah. Tanda-tandanya sudah lama muncul ketika napasku ngos-ngosan setiap kali menaiki tangga, batuk yang tak kunjung reda, dan sesak napas di malam hari. Dokter klinik bilang penyebabnya efusi pleura—ada cairan menumpuk di rongga pleura. Anda mungkin mengenalnya sebagai paru-paru basah, tetapi kata dokter istilah itu tidak tepat. Satu-satunya cara supaya cepat sembuh, cairan itu harus keluarkan. Jadi, jarum suntik akan menembus paruku, lalu disedot keluar lewat selang. Dokter bilang tidak sakit, tetapi aku membayangkannya berbeda. Jika disuntik di pantat saja membuatku ketakutan setengah mati, bagaimana dengan suntikan di paru? Bukankah jarumnya lebih panjang? Ini yang menjadi alasan mengapa aku perlu waktu sebelum memutuskan untuk mengambil cuti berobat ke rumah sakit.

Ayahku menawarkan diri untuk menemaniku ke rumah sakit, tapi itu akan merepotkan aku. Aku pergi dengan sepeda motor, tiba di rumah sakit sekitar pukul setengah sepuluh. Aku mendaftar untuk Poli Paru, menyerahkan kartu BPJS, dan diberi nomor antrian. Poli Paru terletak di sayap utara tidak jauh dari pintu masuk setelah melewati lorong pendek. Ruang tunggunya memanjang dan lumayan luas, diterangi cahaya matahari yang masuk melalui lima jendela kayu tinggi. Poster-poster tentang TBC dan bahaya merokok menempel di dinding. Puluhan wajah muram duduk mengantri menunggu panggilan. Aku duduk di bangku paling belakang, membelakangi jendela, di sebelah laki-laki tua berpakaian batik, berkopiah hitam, dan bau minyak angin sedang tidur.

Berada di sana serasa dekat dengan kematian. Di selasar, seorang remaja duduk di kursi roda dengan tabung oksigen dan selang yang menempel di hidungnya. Di sampingnya, seorang wanita, mungkin ibunya, tampak kelelahan. Agak jauh dari mereka, seorang laki-laki tua kurus memakai sarung juga duduk di kursi roda dengan tabung oksigen, ditemani seorang pemuda—mungkin anak atau cucunya—yang memijat-mijat tangannya. Pasien-pasien baru terus berdatangan, memenuhi ruangan, menyebar virus lewat mulut yang tak ditutup saat batuk, membuatku menyesal tidak membawa masker. Aku bangkit dan berjalan menuju jendela di sudut ruangan untuk udara segar dan ketenangan.

Aku masuk ruang periksa setelah menunggu satu setengah jam. Dokter spesialis yang menanganiku seorang perempuan gemuk berkerudung biru muda. Stetoskop menempel di punggung tanpa perlu membuka baju. Aku diminta menarik napas dalam-dalam dan menahannya sebentar. Punggungku diketuk-ketuk di beberapa bagian seperti yang dilakukan dokter klinik. “Kamu merokok?” tanyanya.

“Tidak,” jawabku. “Tidak pernah.”

Kemudian dia menulis sesuatu atas kertas dan menyerahkannya kepada aku. Itu surat rujukan untuk rontgen.

Lusanya aku kembali ke poli paru dengan membawa hasil rontgen. Dokter menjelaskan bahwa kabut yang menyelimuti paru-paru aku adalah air, air yang sangat banyak. Dia mengatur jadwal untuk tindakan dengan perawat, dan mengambil sampel cairan dari paru-paruku untuk dianalisis di laboratorium. Hasilnya bagus. Jernih, meski agak kekuningan, dan tidak ada bakteri. Tetapi ketika lanjut untuk penyedotan total, cairan yang keluar hanya sekitar 10–15 mL. Hasilnya sama setelah dicoba lagi. Dokter bilang titiknya kurang tepat. Lalu, kami berpindah ke ruang obsgyn. Paru-paruku di-USG untuk mencari lokasi tempat berkumpulnya cairan. Beberapa bagian di punggungku diberi tanda X dengan spidol merah. “Jangan sampai terhapus,” kata dokter. Saat berjalan ke luar ruangan, perawat berkata, “Lagi nabung, Mas?” Aku sempat bingung beberapa lama sebelum paham yang dimaksud adalah menabung air. Aku kembali besoknya untuk penyedotan ulang, tapi setelah dua kali jarum suntik menembus punggungku, cairannya tetap tidak bisa dikeluarkan.

Pilihan lain: aku harus menelan empat kapsul besar obat selama enam bulan setiap pagi, tanpa jeda. Atau, jika lupa, harus diulang lagi dari awal. Tidak ada pantangan menu makanan. Hari pertama pengobatan, air kencingku berwarna merah, lalu hari-hari berikutnya kembali normal. Minggu kedua, mata dan tubuh aku menguning. Dokter bilang aku kena sakit liver. Aku dirujuk ke dokter internis di rumah sakit yang sama. Dokter internis memeriksaku, mengatakan bahwa aku mesti menjalani tes laboratorium. Sampel darahku diambil. Hasilnya memilukan, liverku keracunan obat paru. Pengobatan paru dihentikan, aku menghabiskan sisa cuti sebelum akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan untuk fokus mengobati liverku.

Tidak ada pesangon, perusahaan berbaik hati memberikan “uang berobat” dan ucapan terima kasih berupa bingkisan kue kaleng yang dikirim kurir ke rumah. Gaji terakhir, bonus dan sedikit tabungan memberi harapan aku bisa bertahan selama masa menganggur. Berat badanku terjun bebas, dari 75 kilogram menjadi 55 kilogram dalam seminggu. Aku semakin sering batuk di malam hari, cairan di paru berbunyi saat berpindah posisi tidur. Ayah membuatkanku teh manis hangat waktu aku terbangun di tengah malam karena sesak napas. Aku senang beberapa teman kantor masih menanyakan kabarku setelah sekian lama. Para tetangga datang bergantian menjenguk, membawakan berbagai makanan, buah, uang, dan berbagai saran pengobatan tradisional.

Aku mengikuti saran pengobatan dari siapa saja: aku minum rebusan remis, temu lawak, kunyit, jahe, daun sirsak, dan sirup—jika itu disebut tradisional, dan dipijat refleksi setiap hari Rabu. Ayah memberitahuku bahwa jemaah di masjid mendoakan untuk kesembuhanku usai salat magrib. Setiap minggu aku cek darah dan menebus obat. Terlalu sering cek darah membuatku hampir pingsan. Setelah mempertimbangkan mahalnya biaya obat dan tes laboratorium yang tidak sebanding dengan kemajuannya, aku berhenti berobat.

Bagaimanapun, aku menyukai keheningan yang damai ini, tanpa rutinitas meninggalkan rumah pukul 05.15, membuat bahan presentasi, rapat sampai larut malam, atau terjebak macet berjam-jam. Satu-satunya yang dirindukan dari pekerjaanku adalah menerima gaji dan bonus di tanggal dua puluh tujuh. Aku menghabiskan waktu dengan berjemur diri setiap pagi, membaca buku-buku yang lama tidak tersentuh, membangkitkan lagi hobi fotografi aku, belajar desain grafis, dan merenungi hidup. Setelah dua bulan, aku jadi lebih baik; kuning di mata dan tubuhku pelan-pelan menghilang, menyisakan cairan di paru-paru. Memang, mustahil cairan di paru bisa hilang begitu saja, tapi aku percaya panas matahari membuat cairan itu menguap.

*

Tidak selamanya sakit membuatku menderita. Sakit juga yang membuatku dekat dengan Amanda. Kami bertemu di pesta pernikahan tetangga kami.

Undangan pernikahan itu sebenarnya untuk orang tuaku. Ayah memintaku datang karena ia dan Ibu ada undangan pernikahan lain di Jakarta. Aku menolak. Aku tidak (begitu) kenal Hani, sang mempelai wanita, dan begitu pun teman-temanku. Ayah terus membujukku, mengatakan kapan lagi bisa kondangan di hotel. Aku diam sebentar, melirik surat undangan berwarna hijau tua di atas meja, membaca kata ballroom di sebuah hotel bintang empat.

“Ya sudah. Berikan angpao-nya,” kataku.

Hotelnya tidak terlalu jauh. Aku mengisi buku tamu atas nama ayahku, lalu memasukkan uang angpao ke dalam kotak. Suvenirnya berupa sebuah tumbler hijau keren. Pestanya mewah. Mungkin ada seribu orang yang datang. Pengantin prianya bule Italia. Nuansa Sundanya kental dengan alunan musik degung, pernak-pernik tradisional, dan pelaminannya yang megah seperti singgasana kerajaan. Gubukan makanan yang berjumlah puluhan berbaris di sebelah kanan dan kiri, masing-masing didampingi pelayan berdasi kupu-kupu. Chef-nya sendiri yang memeriksa langsung hidangan di meja makan panjang. Di samping gapura ada pahatan es besar berbentuk angsa dan inisial nama mempelai, potongan aneka buah dan gelas berisi air mineral memenuhi meja bulat. Panggung musiknya besar, sound system-nya jernih.

Aku pergi ke sisi kanan, berdiri di antara dua gubukan makanan, mencari-cari orang yang aku kenal. Bukan untuk bertemu, melainkan untuk dihindari. Para bule, meski tidak begitu banyak, terlihat mendominasi. Mereka mengenakan kebaya dan kain batik untuk para perempuan, dan beskap krem atau kemeja batik untuk para pria. Mereka berbaur dalam antrian di meja prasmanan atau mengobrol dengan orang lokal.

Dugaanku betul, aku tidak melihat ada temanku yang datang. Tidak heran, karena tidak ada dari kami yang kenal si mempelai wanita, bahkan kami menganggapnya sebagai orang luar. Hani lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar negeri. Dia sekolah SMP dan SMA di Singapura, dan kuliah di Inggris. Satu-satunya momen aku bertemu dengannya di lapangan bola waktu kami bersalaman usai salat idul fitri sekitar empat belas tahun lalu.

Aku naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan orang tua mereka. Hani tidak mengenaliku. Mempelai pria, si bule itu, fasih mengucapkan “Terima kasih sudah datang” dalam bahasa Indonesia sambil menangkupkan kedua tangan.

Aku tidak tahu berapa uang yang dimasukkan ayahku ke dalam amplop, tapi aku yakin jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya hidangan yang aku makan. Setelah menghabiskan semangkuk bakso, aku berpindah dari satu gubukan ke gubukan makanan lain, menikmati aneka roti, spageti, dan kebab. Pada saat mengantri makan siang, aku menemukan satu temanku, Yusuf, yang datang sebagai qori saat akad nikah. Dan satu teman lain lagi, Amanda, tentu saja, yang bertugas sebagai pagar ayu. Aku melihatnya saat berada di atas pelaminan tadi.

Aku duduk di sisi kiri gedung yang menghadap ke panggung. Di atas panggung, MC acara memperkenalkan seorang penyanyi perempuan cantik bergaun merah di sebelahnya. Si penyanyi tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu memperkenalkan dirinya. Orang di belakangku berkata, “Dia kan yang pernah ikut lomba Indonesian Idol.” Si penyanyi menyanyikan Endless Love, lagu yang seharusnya dinyanyikan berdua itu dinyanyikan sendiri dengan suara merdu. Tidak ada yang berdansa seperti di film-film, para tamu disibukkan makan siang dan mengobrol.

Makan siangku habis setelah dua lagu. Aku terlalu kenyang untuk pulang atau makan semangkuk bakso lagi. Tamu-tamu bertambah banyak, sebagian lain sudah pulang. Di meja hidangan, petugas katering mengisi nampan-nampan dan piring-piring makanan. Aku berpura-pura sedang menikmati musik di panggung saat Amanda datang mendekat dan berpura-pura terkejut saat dia menepuk bahuku.

 “Sendirian, Kak?” tanyanya. Dia mengenakan kebaya putih, menampakkan belahan dadanya. Rambutnya tidak disanggul, matanya memakai softlens berwarna kelabu, bibirnya dipoles merah muda mengilap, bulir-bulir keringat menghiasi dahinya. Dia menarik kursi lalu duduk di sampingku. Tangannya diletakkan di sandaran kursiku seakan-akan dia sudah lama mengenalku.

“Iya,” jawabku. “Sebetulnya ayahku yang diundang, tapi nggak bisa datang. Ada undangan di tempat lain. Anak sepupu ayahku nikah. Jadi, kamu kenal Hani di mana?”

Amanda juga tidak kenal si mempelai wanita. Dia jadi pagar ayu atas permintaan Ibu Hani. Ibu Hani dapat informasi tentang dirinya dari Ibu Wati, yang rumahnya tepat di sebelah rumah Amanda. Ibu Hani merasa tidak enak jika tidak ada anak setempat yang jadi pagar ayu, begitu yang dikatakan Ibu Wati kepada Amanda minggu lalu. Sebetulnya Ibu Wati juga punya anak perempuan yang masih SMA, tapi anak itu sangat pemalu. Dia berpikir kenapa tidak Amanda saja?

Amanda sudah empat atau lima kali jadi pagar ayu sejak masih SD. Itu pekerjaan yang melelahkan dan tidak dibayar. Meski begitu, menjadi pagar ayu di pernikahan bule dan bertempat di hotel akan jadi pengalaman baru baginya, selain itu dia sedang tidak ada kegiatan hari itu.

“Aku bahkan boleh memiliki seragamnya,” katanya, mengelus lengan kebayanya yang terlihat mahal. “Untuk pekerjaan setengah hari, bayarannya lumayan. Kalau begini, aku sih mau saja pagar ayu jadi pekerjaan utama.” Dia tertawa.

Dia melakukan gladi resik di hotel sekaligus fitting baju di hari Sabtu. Sarapan, makan siang, dan makan malamnya di restoran hotel. Minggu paginya, dia dijemput untuk didandani, lalu menghadiri akad nikah, mendampingi mempelai wanita di upacara adat dan menjadi penerima tamu. Sekarang tugasnya sudah selesai. Dia tadinya mau pulang, tapi tidak jadi setelah melihatku.

“Aku mau menanyakan sesuatu,” katanya.

“Tanya apa?”

Dia menggeser kursinya hingga menempel ke kursiku dan lututnya menyentuh pahaku.

“Kakak benar pernah sakit paru? Sudah sembuh?”

Aku berpikir pasti Rulie yang memberitahunya. “Alhamdulillah sudah sembuh.”

“Kenapa bisa kena, Kak? Berobat di mana? Berapa lama sembuhnya?”

Ibarat satu-satunya penumpang yang selamat dari kecelakaan pesawat jatuh, banyak yang mengira kesembuhanku sebuah keajaiban. Mereka tidak sepenuhnya salah. Saat itu aku memang terlihat kurus dan menyedihkan, meninggalnya dua tetangga kami di waktu yang berdekatan karena sakit berat membuat mereka mengira hidupku tidak akan lama. Mungkin hal itu yang membuat Amanda penasaran.

Amanda menarik napas panjang setelah mendengar ceritaku, matanya memandang kosong ke atas panggung. Apakah aku menceritakannya terlalu dramatis? Di atas panggung, si penyanyi menawarkan para tamu untuk bernyanyi. Seorang pria bule berkumis berpakaian batik hijau naik ke panggung, melambaikan tangan, menyapa para tamu dan memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia yang lancar. Ia menyanyikan lagu My Way.

“Aku juga pernah sakit paru. Waktu kelas 2 SMP,” kata Amanda. “Nggak separah kakak. Cuma ada flek di paru. Aku minum obat yang sama seperti yang kakak minum. Setelah delapan bulan aku dinyatakan sembuh. Tapi aku malah jadi parno kalau batuk-batuk. Aku takut kambuh lagi. Perasaan itu terus ada sampai sekarang. Apakah kakak juga merasakan hal yang sama?”

Pertanyaan itu seharusnya terdengar biasa saja. Aku merasa sudah sembuh. Tidak ada lagi sesak nafas atau batuk, dan berat badanku kembali normal. Meski begitu, mengingat kenyataan aku belum melakukan rontgen lagi, pertanyaan itu berubah menjadi sangat menakutkan. Aku ingat dokterku pernah mengatakan bahwa cairan di paruku bisa saja balik lagi kalau penyebabnya belum ditangani. Mungkin aku belum benar-benar sembuh. Aku menarik napas panjang, dan menjawab, “Iya.”

Untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, sama-sama memandang ke atas panggung sebelum akhirnya Amanda berkata, “Jadi, sekarang kegiatan kakak apa?”

Aku pernah mendengar tetanggaku menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibuku, pertanyaan yang bisa juga bermaksud lain: Kenapa aku masih belum kerja?

Orang-orang memang selalu saja ingin tahu kegiatan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Untungnya jawaban ibuku sangat diplomatis. Dia bilang aku sedang masa pemulihan, jadinya aku tidak boleh terlalu capek dan tidak boleh kerja dulu. Namun aku yakin Amanda tidak bermaksud begitu. Itu hanya pertanyaan spontan, atau dengan kata lain, dia ingin mengenal aku lebih jauh. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, aku mengatakan bahwa aku masih dalam masa pemulihan dan sedang mengembangkan diri dengan belajar banyak hal baru. Aku belajar desain grafis, fotografi, membaca novel, dan menulis novel.

“Hebat!”

“Waktu luang harus bermanfaat, bukan?”

Kami ada di sana sampai lagu Love Story berakhir sekitar pukul 14.00. Aku mengantarnya pulang dengan sepeda motor.

Di tahapan ini, aku sudah tidak lagi menghitung di anak tangga berapa aku berada. Aku merasa kami saling memberikan kesan positif di pertemuan itu. Aku menyukai keriangannya dan caranya mendengarkan cerita aku tanpa memotong. Mungkin dia mengalami perasaan yang sama terhadapku yang dipenuhi optimisme. Tapi aku orang yang tahu diri. Aku baru saja memasuki lingkaran pertemanannya, berada di level yang sama dengan teman-temannya di Karang Taruna. Meski begitu, aku diuntungkan dengan citra positifku sebelum aku sakit dan berhenti kerja. Misalnya, aku sampai saat ini jadi satu-satunya lulusan perguruan tinggi negeri di lingkungan kami. Baiklah, orang-orang mungkin sudah lupa atau tidak peduli akan hal itu, dan lebih melihat citra seseorang di masa sekarang. Sekarang mereka melihatku sebagai seorang pengangguran, tetapi mereka tidak tahu aku berprospek cerah. Aku sedang mengerjakan proyek pribadi, sebuah bisnis. Setelah melalui pertimbangan matang, aku lebih memilih memulai bisnis ketimbang mencari pekerjaan baru. Seperti perasaanku kepada Amanda, aku tidak perlu memberitahu proyek apa yang sedang kukerjakan. Pada waktunya nanti, ketika bisnisku sudah besar, orang-orang akan tahu sendiri.

Karena itu aku tidak perlu tergesa-gesa mengajak Amanda makan di luar atau nonton, apalagi sampai menyatakan cinta. Aku bersikap seperti biasa; aku menyapanya saat berpapasan atau hanya melihatnya dari balik kerai bambu. Aku tidak pernah menyebut nama Amanda saat mengobrol dengan Rulie atau teman-temanku yang lain. Ketika teman-temanku bicara tentang Amanda, aku diam saja seakan pembicaraan itu tidak penting. Aku juga diam saja ketika ada di antara kami yang menunjukkan ketertarikan kepada Amanda. Aku juga tidak cemburu ketika melihat Amanda jalan dengan teman laki-lakinya. Bahkan ketika mendengar kabar Amanda sudah bertunangan, aku tidak kecewa, sedih, marah, atau menyesali diri.

Amanda sendiri yang mengantarkan surat undangan pernikahannya padaku ketika kami berpapasan pada suatu sore saat aku sedang menyiram tanaman. Calon suaminya bernama Bayu, dokter Spesialis Anak kenalan kakaknya. Tentu saja aku tidak berpikir ia adalah Bayu yang sama dengan teman SMP-ku. Nama lengkapnya saja berbeda. Ini Bayu Purnomo, temanku Bayu Saputro. Dan tidak ada kata Nia pada nama ibunya.

Sebetulnya aku meragukan Tante Nia adalah ibu Bayu Saputro, teman SMP-ku. Aku tidak pernah melihat foto Bayu bersama ayahnya, atau foto Tante Nia bersama suaminya. Jawaban Bayu yang selalu sama (atau tidak menjawab sama sekali) ketika kutanya tentang ayahnya, bahwa ayahnya masih di Eropa dan baru akan pulang tahun depan. Faktanya, ayahnya tidak pernah pulang ke rumah. Entah siapa laki-laki di foto itu. Jika memang benar ayahnya, apakah orang tuanya sudah bercerai, atau ayahnya sudah meninggal. Sejauh yang kutahu, Tante Nia pandai menyembunyikan statusnya dengan bersikap selayaknya ibu rumah tangga lainnya. Dia bergaul dan berbaur dengan ibu-ibu di lingkungan kami. Dia seorang perempuan yang sopan. Dia pernah beberapa kali membawakan kue atau makanan lain buatannya sendiri ke rumahku dan mengobrol dengan ibuku. Suatu kali, ketika aku menemani ibuku mengobrol dengannya, Tante Nia memujiku sebagai anak yang baik.

Di sepanjang jalan menuju gedung pesta pernikahan Amanda, aku mengingat saat pertama kali aku melihat dirinya, saat pertama kali mendengar namanya, saat mengikutinya sampai ke kantornya, saat kami berkenalan di rumahnya, dan saat kami mengobrol di pesta pernikahan Hani. Kupikir situasinya pasti akan berbeda seandainya aku tidak sakit atau tidak terburu-buru memutuskan untuk berhenti kerja. Pada akhirnya, bernostalgia dan berandai-andai menjadi caraku untuk menghibur diri.

Aku masuk gedung bersamaan dengan iring-iringan pengantin yang berjalan lambat. Tiba di dalam gedung, aku memisahkan diri dan bergabung dengan tamu undangan lain yang sedang menyaksikan upacaranya yang sakral itu. Diiringi alunan degung dan narasi MC yang sangat menyentuh, kedua mempelai melakukan ritual sungkeman. Terdengar suara isak tangis Amanda saat meminta restu ayahya. Pak Maman berkali-kali mengusap air matanya dengan tangan, lalu memeluk putrinya. Amanda terlihat cantik dalam kebaya putih dan kerudung, duduk bersanding dengan suaminya yang tampan. Aku naik ke pelaminan, bersalaman dengan Rulie dan ayahnya, dan memberi selamat kepada Amanda dan suaminya. Kemudian aku menikmati berbagai hidangan, dengan mata yang tidak pernah lepas darinya. Aku memandanginya saat dia menyalami para tamu, saat dia berfoto dengan teman-teman SMP-nya, dengan teman-teman SMA-nya, dengan rekan-rekan kerjanya, dengan teman-temannya di Karang Taruna, dan saat dia berfoto denganku.✦