Oktober dan Juni
Usia!—apa urusannya sampai bisa menjadi penghalang antara ia dan orang yang dicintainya?

Sang Kapten menatap muram pedangnya yang tergantung di dinding. Di lemari dekat sana, tersimpan seragamnya yang sudah pudar, penuh noda dan usang karena cuaca dan tugas lapangan. Terasa sudah sangat, sangat lama sejak masa-masa perang yang penuh ketegangan itu berlalu!
Dan kini, sebagai veteran yang telah melewati masa-masa sulit negaranya, ia justru dipaksa menyerah kalah oleh tatapan lembut dan senyum seorang wanita. Sambil duduk di kamarnya yang sunyi, ia menggenggam surat yang baru saja diterimanya—surat yang membuatnya tampak begitu muram. Ia membaca ulang paragraf menyakitkan yang telah menghancurkan harapannya.
Saya merasa harus berkata jujur mengapa saya menolak lamaran Anda untuk menikah. Alasan saya adalah karena perbedaan usia kita yang teramat jauh. Saya sangat, sangat menyukai Anda, tapi saya yakin pernikahan kita tidak akan bahagia. Saya minta maaf karena harus menyinggung hal ini, tapi saya percaya Anda akan menghargai kejujuran saya dalam memberikan alasan yang sebenarnya.”
Sang Kapten menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya di atas dua tangannya. Memang, perbedaan usia mereka teramat jauh. Tapi ia seorang yang kuat dan bugar, punya jabatan dan kekayaan. Bukankah cinta, perhatian tulus, dan kemapanan yang bisa ia berikan akan membuat wanita itu melupakan soal usia? Lagipula, ia hampir yakin bahwa Theodora juga menyukai dirinya.
Sang Kapten adalah orang yang sigap bertindak. Di medan tempur, ia dikenal karena ketegasan dan semangatnya. Ia akan menemui wanita itu dan memperjuangkan cintanya lagi secara langsung. Usia!—apa urusannya sampai bisa menjadi penghalang antara ia dan orang yang dicintainya?
Dalam dua jam ia telah siap, dengan perlengkapan tempurnya, demi pertempuran terbesarnya. Ia naik kereta menuju kota tua di Selatan, di Tennessee, tempat wanita itu tinggal.
Theodora Deming sedang bersantai di tangga rumah tua besar yang megah itu, menikmati senja musim panas, ketika Sang Kapten masuk melewati gerbang dan menyusuri jalan setapak berkerikil. Theodora menyambutnya dengan senyum, tanpa rasa canggung. Saat Sang Kapten berdiri di anak tangga di bawahnya, perbedaan usia mereka tidak begitu kentara. Pria itu tinggi, tegap, bermata jernih, dan berkulit kecokelatan. Sementara Theodora sendiri sedang cantik-cantiknya sebagai wanita dewasa.
“Aku tidak menyangka kau akan datang,” kata Theodora, “tapi sekarang kau sudah di sini, silakan duduk di tangga. Kau menerima suratku, bukan?”
“Sudah,” jawab Sang Kapten, “dan karena itulah aku datang. Dengar, Theo, maukah kau mempertimbangkan kembali jawabanmu?”
Theodora tersenyum lembut padanya. Pria itu tampak awet muda. Theodora benar-benar menyukai kekuatannya, penampilannya yang segar, sifat maskulinnya—mungkin, jika saja—
“Tidak, tidak,” katanya sambil menggeleng mantap. “Itu tidak mungkin. Aku sangat menyukaimu, tapi tidak untuk menikah. Usiaku dan usiamu itu—ah, jangan paksa aku mengatakannya lagi—sudah kukatakan di suratku.
Wajah Sang Kapten sedikit memerah di balik kulitnya yang kecokelatan. Ia terdiam sejenak, menatap sedih ke arah senja. Di balik barisan hutan yang tampak olehnya, terdapat sebuah lapangan tempat para prajurit berseragam biru dulu pernah berkemah dalam perjalanan mereka menuju laut. Terasa sudah sangat lama sekali! Sungguh, Takdir dan Waktu telah mempermainkannya dengan kejam. Hanya karena selisih beberapa tahun saja, kebahagiannya terhalang!
Tangan Theodora perlahan turun dan menyelinap ke dalam genggaman tangan pria itu yang kokoh dan kecokelatan. Setidaknya, ia merasakan sebuah perasaan yang menyerupai cinta.
“Jangan terlalu diambil hati,” katanya dengan lembut. “Ini semua demi kebaikan bersama. Aku sudah memikirkan ini matang-matang sendirian. Suatu hari nanti kamu akan bersyukur aku tidak menikahimu. Memang akan terasa indah dan menyenangkan untuk sementara waktu—tapi coba pikirkan! Hanya dalam beberapa tahun saja, selera kita pasti akan berbeda! Yang satu ingin duduk di dekat perapian sambil membaca, mungkin juga sambil mengeluh masalah penyakit linu atau rematik di malam hari, sementara yang lainnya akan sangat ingin pergi ke pesta dansa, teater, dan makan malam sampai larut. Tidak, sahabatku. Meskipun perbedaan ini tidak persis seperti Januari dan Mei, ini jelas seperti bulan Oktober dan awal Juni.”
“Aku akan selalu melakukan apa pun yang kau inginkan, Theo. Jika kau ingin—”
“Tidak, kau tidak akan melakukannya. Sekarang kau pikir kau akan begitu, tapi kenyataannya tidak. Kumohon, jangan tanya aku lagi.”
Sang Kapten telah kalah dalam pertempurannya. Namun, ia adalah seorang pejuang yang gagah berani. Ketika ia bangkit untuk mengucapkan perpisahan terakhir, mulutnya tertutup rapat-rapat dan bahu yang tegak.
Malam itu juga ia naik kereta menuju Utara. Malam berikutnya, ia sudah kembali ke kamarnya, tempat pedangnya tergantung di dinding. Ia sedang berpakaian untuk makan malam, mengikat dasi putihnya dengan simpul yang sangat rapi. Dan di saat yang sama, ia merenung dalam hati.
“Demi kehormatanku, sepertinya Theo benar juga. Tak ada yang bisa membantah kalau dia memang cantik luar biasa, tapi usianya pasti paling tidak sudah dua puluh delapan—itu pun dengan perhitungan yang murah hati.”
Sebab asal kautahu, Sang Kapten baru berusia sembilan belas tahun, dan pedangnya tidak pernah terhunus kecuali di lapangan upacara di Chattanooga, tempat terdekat yang pernah ia capai dari Perang Spanyol-Amerika.✦
